Untuk Istri
Pernikahan ataupun perkawinan,
Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad,
Tidaklah setakwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Ayub,
Atau pun segagah Musa,
Apalagi setampan Yusuf
Justeru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita,
Membangun keturunan yang soleh ...
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamu adalah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamu lah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya ...
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,
Untuk belajar meniti sabar dan redha,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justeru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah,
yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar,
yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman,
Yang berusaha menjadi solehah...
Amin.
Rabu, 20 Mei 2009
Selasa, 19 Mei 2009
Yang Hilang Jadi Pelajaran
Kemarin, daku kehilangan benda-benda yang cukup berharga. Dua buah HP, satu punyaku, satu punya adikku berserta SIM dan STNK kendaraan. Benda-benda yang diamanahkan padaku untuk dijaga dengan baik, atas kelalaianku hilang karena jatuh di jalan entah dimana.
Merasa bersalah adalah perasaan yang muncul, berikutnya merasa menyesal karena kesalahanku tentu saja. Lalu merasa sedih karena aku kehilangan beberapa hal yang penting, banyak hal di dalam HP itu, nama dan kontak orang-orang penting terlebih surat-surat spt SIM dan STNK. Tapi kata suamiku, menyesali kejadian itu tidak boleh. Apa-apa yang sudah terjadi itu pasti atas ijin Allah, jadi apapu itu mesti dikhlaskan. Kalo nggak ikhlas, maka itulah bisikan setan. Maka daku berusaha mengikhlaskannya, tentu saja dengan tetap berusaha agar sekarang, aku mesti lebih berhati-hati lagi dalam menjaga barang-barang...
Satu lagi, selepas terjadinya peristiwa hilang ini, ada nasehat yang teringat bahwa kalo punya barang hilang, mungkin aja ibadah infaqnya kurang. Hmmm...Ya, ini satu pelajaran lagi. Berinfaq yang istiqomah, agar harta benda kita barokah...agar kita terhindar dari ancaman Allah.
Ancaman yang dramatis ditujukan kepada siapa saja yang tidak mau berinfaq dijalan Allah, kita bisa baca dalam surat al-Taubat ayat 34, yang artinya :” … dan orang–orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak mengeluarkan infaq di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih. [Yaitu] pada hari yang dipanggang [harta-harta] itu atas neraka jahannam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka [seraya dikatakan] kepadamereka : itulah harta bendamu yang kamu timbun untuk dirimu sendiri; lantara itu rasakan [akibat] dari apa yang kamu timbun itu”. ihhh ngeri...
Satu tuntunan Qur'an tentang infaq dituliskan begitu indah. Ayat tentang infaq dibawah ini menjalaskan pertambahan rezki yang diberikan Allah kepada para dermawan yang artinya : “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah adalah ibarat sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangki, pada setiap tangki terdapat 100 biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mala Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqoroh :261)
Jadi...infaq...infaq...infaq...
Anak Sering Ceroboh
Assalamualaikum,
Saya mau ceritakan kondisi anak saya yang suka ceroboh. Dia seringkali kehilangan barang, apalagi untuk yang kecil-kecil seperti pensil, penghapus, atau bolpoin. Mainan yang ada di rumah juga sering dirusak, meskipun dia bilang itu tidak sengaja. Saya juga kesulitan membantunya belajar menulis, karena tulisannya kadang-kadang tidak terbaca, kalau menyalin, satu atau dua huruf hilang, dan pensilnya juga sering patah. Yang paling menjengkelkan, dia sering menyenggol barang-barang, gelas berisi air tumpah, atau kalau naruh barang sering tidak pas sehingga terbanting ke lantai sehingga sering terjadi keributan di rumah. Saya sudah terlalu sering mengingatkannya untuk hati-hati, tapi tetap saja sulit untuk berubah. Kenapa ya dengan anak saya, apakah itu sebuah kelainan? Terimakasih (Ibu Ny)
Waalaikumsalam
Orangtua memang sering diuji kesabarannya lewat perilaku anak, mudah-mudahan Ibu Ny sabar..Amin. Sekilas dari cerita ibu, kemungkinan ananda mengalami gangguan memori visual, yaitu kemampuan untuk mengingat dalam memperlakukan benda. Sebenarnya itu bukan kelainan, sebab anak yang kemampuan intelektualnya bagus juga bisa mengalami masalah yang sama. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena kurangnya stimulasi lingkungan yang membentuk kemampuan tersebut. Artinya masalah kebiasaan, budaya, atau proses belajar waktu kecil maupun proses belajar di sekolah kurang merangsang pertumbuhan kemampuan tersebut. Faktor lain yang juga menyebabkan adalah keterampilan motorik halus terutama manipulasi di ujung jari yang kurang bagus. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan cara pegang pensilnya yang tidak stabil atau cara pegang sendoknya yang kurang pas. Selain itu bisa juga ditambah kontrol gerakan dan sistem keseimbangan yang kurang optimal. Anak seperti ini masih bisa dibantu dengan latihan keterampilan motorik halus dan terapi untuk meningkatkan kontrol postur.
Saya mau ceritakan kondisi anak saya yang suka ceroboh. Dia seringkali kehilangan barang, apalagi untuk yang kecil-kecil seperti pensil, penghapus, atau bolpoin. Mainan yang ada di rumah juga sering dirusak, meskipun dia bilang itu tidak sengaja. Saya juga kesulitan membantunya belajar menulis, karena tulisannya kadang-kadang tidak terbaca, kalau menyalin, satu atau dua huruf hilang, dan pensilnya juga sering patah. Yang paling menjengkelkan, dia sering menyenggol barang-barang, gelas berisi air tumpah, atau kalau naruh barang sering tidak pas sehingga terbanting ke lantai sehingga sering terjadi keributan di rumah. Saya sudah terlalu sering mengingatkannya untuk hati-hati, tapi tetap saja sulit untuk berubah. Kenapa ya dengan anak saya, apakah itu sebuah kelainan? Terimakasih (Ibu Ny)
Waalaikumsalam
Orangtua memang sering diuji kesabarannya lewat perilaku anak, mudah-mudahan Ibu Ny sabar..Amin. Sekilas dari cerita ibu, kemungkinan ananda mengalami gangguan memori visual, yaitu kemampuan untuk mengingat dalam memperlakukan benda. Sebenarnya itu bukan kelainan, sebab anak yang kemampuan intelektualnya bagus juga bisa mengalami masalah yang sama. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena kurangnya stimulasi lingkungan yang membentuk kemampuan tersebut. Artinya masalah kebiasaan, budaya, atau proses belajar waktu kecil maupun proses belajar di sekolah kurang merangsang pertumbuhan kemampuan tersebut. Faktor lain yang juga menyebabkan adalah keterampilan motorik halus terutama manipulasi di ujung jari yang kurang bagus. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan cara pegang pensilnya yang tidak stabil atau cara pegang sendoknya yang kurang pas. Selain itu bisa juga ditambah kontrol gerakan dan sistem keseimbangan yang kurang optimal. Anak seperti ini masih bisa dibantu dengan latihan keterampilan motorik halus dan terapi untuk meningkatkan kontrol postur.
Anak Dipukul, Trauma Nggak?
Assalamualaikum,
Saya punya anak usia 10 tahun yang sulit sekali mengendalikan keinginannya. Setiap kali menginginkan sesuatu, harus dituruti saat itu juga. Kalau tidak, dia bakal ngambek, nggak mau ngomong atau malah teriak-teriak sambil nangis, baik itu saat minta jajanan atau mainan. Saya tahu, sifat seperti itu tidak baik, dia harus belajar mengendalikan keinginannya. Makanya akhir-akhir ini, saya buat peraturan buat dia, uang saku saya batasi dan setiap kali perg ibelanja harus disepakati dulu di awal apa yang mau dibeli, tidak boleh minta macam-macam lagi. Apakah peraturan seperti ini salah? Beberapa hari yang lalu saya mengalami kejadian yang memalukan. Sewaktu di sebuah swalayan, dia marah karena tidak saya ijinkan mengambil makanan di luar kesepakatan. Dia teriak-teriak sampai orang satu swalayan melihat kita berdua. Saya tidak tahan, akhirnya saya cubit, saya pukul sampai diam. Saya jadi takut, apakah nanti dia tidak trauma dengan kekerasan yang sudah saya lakukan? Mohon pendapatnya, terimakasih.- Ibu Lyn
Waalaikum salam,
Setiap orangtua pasti berusaha memberikan yang terbaik buat anaknya. Tetapi bukan berarti harus menuruti segala keinginannya. Alhamdulillah, ibu menyadari bahwa kita harus mendidik anak-anak untuk mengendalikan keinginan. Allah mengaruniakan hawa nafsu agar manusia dpat mengendalikannya. Apakah peraturan perlu dibuat? Ya, sangat perlu. Anak-anak perlu dikenalkan pada hukum sbeab akibat, jika melakukan ini akan berakibat itu. Jika tidak dibekali aturan, mereka akan semaunya sendiri dan pada akhirnya akan sulit berdaptasi di masyarakat yang penuh dengan aturan. Hanya saja proses menetapkan aturan perlu diperhalus, dengan cara dialog tentang apa harapan anak, harapan ayah-ibu, dan usaha untuk mempertemukan keduanya. Kesepakatan perlu dibangun, dan setelah itu dilaksanakan dengan konsisten. Pada awalnya mungkin terjadi masalah, anak yang terbiasa mendapat segala yang diinginkan tiba-tiba diberi peraturan-peraturan. Seperti yang ibu ceritakan, teriak-teriak di swalayan. Yah, di sini mungkin pengorbanan orangtua diperlukan seperti rasa malu dulihat orang, perasaan tega yang kadang membuat kita merasa bersalah, dan perang emosi dengan anak ketika harus melakukan kekerasan. Perlu digarisbawahi, bukan kekerasan tapi ketegasan. Jika anak bisa diberi konsekuensi dengan didiamkan atau dicuekin, mungkin tidak perlu sampai memukul. Namun jika itu sudah terlanjur terjadi, agar tidak terjadi trauma perlu dialog dengan anak. Setelah emosinya reda, ajak diskusi tentang alasan ketegasan tadi. Jelaskan pelan-pelan bahwa semua itu dilakukan untuk kebaikannya di masa depan.
Waalaikum salam,
Setiap orangtua pasti berusaha memberikan yang terbaik buat anaknya. Tetapi bukan berarti harus menuruti segala keinginannya. Alhamdulillah, ibu menyadari bahwa kita harus mendidik anak-anak untuk mengendalikan keinginan. Allah mengaruniakan hawa nafsu agar manusia dpat mengendalikannya. Apakah peraturan perlu dibuat? Ya, sangat perlu. Anak-anak perlu dikenalkan pada hukum sbeab akibat, jika melakukan ini akan berakibat itu. Jika tidak dibekali aturan, mereka akan semaunya sendiri dan pada akhirnya akan sulit berdaptasi di masyarakat yang penuh dengan aturan. Hanya saja proses menetapkan aturan perlu diperhalus, dengan cara dialog tentang apa harapan anak, harapan ayah-ibu, dan usaha untuk mempertemukan keduanya. Kesepakatan perlu dibangun, dan setelah itu dilaksanakan dengan konsisten. Pada awalnya mungkin terjadi masalah, anak yang terbiasa mendapat segala yang diinginkan tiba-tiba diberi peraturan-peraturan. Seperti yang ibu ceritakan, teriak-teriak di swalayan. Yah, di sini mungkin pengorbanan orangtua diperlukan seperti rasa malu dulihat orang, perasaan tega yang kadang membuat kita merasa bersalah, dan perang emosi dengan anak ketika harus melakukan kekerasan. Perlu digarisbawahi, bukan kekerasan tapi ketegasan. Jika anak bisa diberi konsekuensi dengan didiamkan atau dicuekin, mungkin tidak perlu sampai memukul. Namun jika itu sudah terlanjur terjadi, agar tidak terjadi trauma perlu dialog dengan anak. Setelah emosinya reda, ajak diskusi tentang alasan ketegasan tadi. Jelaskan pelan-pelan bahwa semua itu dilakukan untuk kebaikannya di masa depan.
Kok Sulit Konsentrasi Belajar?
Assamulaikum,
Ustadah anak saya sepertinya sulit konsentrasi. Kalau di kelas umek terus, nggak bisa diam. Kenapa ya kok bisa begitu, apa ada kelainan? Beberapa anak teman saya yang seperti ini dibawa ke dokter dan akhirnya diberi obat. Memang katanya bisa jadi lebih tenang, setidaknya kalau minum obat pagi hari bisa tahan sampai jam 12 siang. Apakah obat seperti ini tidak berbahaya kalau dikonsumsi terus menerus? Ada nggak terapi psikologi untuk meningkatkan konsentrasi yang bisa diberikan biar tidak perlu pakai obat?
Ustadah anak saya sepertinya sulit konsentrasi. Kalau di kelas umek terus, nggak bisa diam. Kenapa ya kok bisa begitu, apa ada kelainan? Beberapa anak teman saya yang seperti ini dibawa ke dokter dan akhirnya diberi obat. Memang katanya bisa jadi lebih tenang, setidaknya kalau minum obat pagi hari bisa tahan sampai jam 12 siang. Apakah obat seperti ini tidak berbahaya kalau dikonsumsi terus menerus? Ada nggak terapi psikologi untuk meningkatkan konsentrasi yang bisa diberikan biar tidak perlu pakai obat?
Terimakasih. - Ibu Vyn
Waalaikumsalam
Konsentrasi anak ketika belajar di kelas maupun di rumah dipengaruhi beberapa faktor, antara lain kondisi fisik, situasi emosi, situasi sosial, dan juga minat. Kita harus meneliti dulu sebab kesulitan konsentrasi, baru bisa memberikan saran, apakah perlu terapi, atau perlu obat, atau penanganan lain. Dari beberapa kasus yang pernah kami tangani, memang ada anak-anak dengan kesulitan konsentrasi. Jika tanda-tanda umek tersebut diteliti lebih lanjut, kemungkinan ada ketidaktuntasan sistem sensorik-motorik. Maka salah satu solusinya dalah dengan mengikuti terapi okupasi dengan pendekatan sensorik integrasi. Terapi dilakukan untuk menstimulasi tubuh agar mengatur regulasi diri lebih baik. Jadi tidak perlu obat untuk membuat anak tenang dan mudah berkonsentrasi.
Waalaikumsalam
Konsentrasi anak ketika belajar di kelas maupun di rumah dipengaruhi beberapa faktor, antara lain kondisi fisik, situasi emosi, situasi sosial, dan juga minat. Kita harus meneliti dulu sebab kesulitan konsentrasi, baru bisa memberikan saran, apakah perlu terapi, atau perlu obat, atau penanganan lain. Dari beberapa kasus yang pernah kami tangani, memang ada anak-anak dengan kesulitan konsentrasi. Jika tanda-tanda umek tersebut diteliti lebih lanjut, kemungkinan ada ketidaktuntasan sistem sensorik-motorik. Maka salah satu solusinya dalah dengan mengikuti terapi okupasi dengan pendekatan sensorik integrasi. Terapi dilakukan untuk menstimulasi tubuh agar mengatur regulasi diri lebih baik. Jadi tidak perlu obat untuk membuat anak tenang dan mudah berkonsentrasi.
Konsentrasi bisa dipengaruhi oleh situasi emosi. Beberapa anak memang tampak terlihat melamun ketika di kelas sehingga kelihatan sulit konsentrasi. Biasanya anak-anak melamun dua hal, antara berkhayal atas keinginan-keinginan yang belum tercapai atau kecemasan terhadap berbagai hal yang mereka takutkan. Terapi yang dilakukan tentu saja dalam rangka membantu mereka mengelola keinginan dan mengelola kecemasan. Terapi ini biasanya dengan program orangtua dan anak, tidak perlu obat juga.
Penggunaan obat mungkin saja perlu ketika kesulitan konsentrasi cukup parah, sebab obat dapat menstimulasi tubuh untuk mengatur sistem hormon yang membantu regulasi dalam tubuh. Setiap penggunaan obat tentu ada efek sampingnya dan setiap orang memberikan respon yang berbeda, bisa cocok bisa tidak cocok, bisa berbahaya bisa juga tidak. Jika memang berkenan menggunakan obat, sebaiknya tanyakan kepada dokter pemberi obat tentang kegunaan obat tersebut, dan galilah lebih detil efek samping yang mungkin didapat ketika mengkonsumsinya. Dokter punya kewajiban untuk menjelaskan semua itu.
Langganan:
Postingan (Atom)
