Jumat, 07 Mei 2010
Ibu, Pendidik Manusia yang Pertama-tama
WANITA JEPANG TETAP KONSISTEN MENJADI IBU, PENDIDIK MANUSIA YANG PERTAMA-TAMA. Oleh: Anni Iwasaki (ditulis 17 April 2004)
"Okikunatara okasan ni naritai"- kalau besar ingin menjadi ibu- jawaban anak-anak Jepang seperti itu, rasanya tidak dimiliki oleh anak-anak perempuan di Indonesia. Apabila datang pertanyaan, "Kalau sudah besar nanti ingin menjadi apa?"
(anak perempuan di Indonesia sudah mulai dibiasakan berbeda, aku dulu aja diajari, kalo mau besar besok jadi apa : jadi doktel...haiya...lingkungan Indonesia telah melupakan peran wanita yang hakiki. Sampai teringat padaku, ketika OSPEK KAMPUS, salah seorang teman satu kelompok : Devi Karulina, menjawab dengan tegas, cita-citamu apa? JADI IBU RUMAH TANGGA. Dan kakak-kakak senior langsung tertawa terbahak-bahak, sambil cari cara untuk "nggarap" anak lugu satu ini. Kalian tahu, Mbak Devi betul-betul jadi perempuan yang pertama menjadi ibu di angkatan kami, sebelum dia lulus kuliah, dan insya Allah ibu yang baik)
Coba kita simak isi surat Kartini “Kami di sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karena kami, oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan-hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama.(4 Oktober 1902 Kepada Tn Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985)
(Tulisan Kartini ini pastinya menohon para perempuan pecinta karir..Kartini yang kita agungkan, ingat jasany dalam perjuangan perempuan, sudah mengajarkan kita untuk : MENJADI IBU sebagai peran utama wanita. Aku ingat, barusan ada anggota legislatif yang memilih bercerai, karena suami tak ijinkan dia bekerja jadi wakil rakya. Kok ya mbelani karir, padahal sudah punya anak tuh...aku juga punya klien yg begitu sulitnya cari jadwal untuk membahas perkembangan anaknya, karena begitu sibuk di kantor, dengan enaknya berkata : saya 'kan nggak bisa ninggalin kantor seenaknya-tapi apa ibu bisa meninggalkan anak ibu seenaknya, kataku dalam hati. Aku juga ingat beberapa hari yang lalu mewawancari seorang pencari kerja. Dalam rangka menelusuri pengelolaan emosi & interaksi sosial aku tanya : Maaf mbak, dengan usia 37 tahun ini, mengapa mbak memutuskan untuk belum menikah? tahu apa jawabnya : dari dulu saya berpikir bahwa saya bisa hidup tanpa laki-laki (pasangan red.), saya bisa mencukupi kebutuhan hidup saya tanpa harus memiliki suami, bahkan saya bisa mencapai karir yang lebih dari laki-laki. Aku cuma bisa tarik nafas panjangggggg, mendengar jawabannya. Inilah sebuah potret realitas di masyarakat, yg mungkin bukan milik wanita bujangan, tapi bisa juga bercokol di kepala para istri yang punya suami, para ibu yang punya anak)
Rilis Kementerian Kesehatan-Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 17 Maret 04 lalu mengungkap 61% ibu muda Jepang keluar dari pekerjaannya menjelang kelahiran anak pertamanya untuk membesarkan buah hatinya. Kebebasan memilih bagi wanita Jepang adalah, profesionalisme. Peran ganda sebagai ibu, terutama ibu anak balita sekaligus wanita pekerja. Dianggap sebagai chuto hanpa-peran tanggung, tidak populer di Jepang. Bagi wanita pekerja Jepang-wanita tidak menikah/menikah tdk melahirkan anak -, bisa mencapai jabatan yang setinggi-tingginya apabila dia sanggup dan mampu. Astronout wanita Asia pertama, adalah wanita Jepang, Dr. Chiaki Mukai. Menlu sekaligus Deputi Perdana Menteri dari negara super economic power, adalah seorang wanita, Yoriko Kawaguchi. Bagi wanita Jepang yang memilih melahirkan anak. Secara ilmiah maupun dalam tradisi Jepang, mitsu no tamashi -masa-masa emas meletakkan pendidikan dasar sejak janin berada dalam kandungan hingga dalam usia tiga tahun pertama anak adalah masa perkembangan pesat otak seorang anak-. Adalah penyebab utama para ibu muda Jepang berpendidikan meninggalkan lapangan kerja melaksanakan ikuji-meletakkan dasar pendidikan karakter&berperilaku sejak dini kepada anak-anaknya.
(Makanya Jepang jadi negara maju. Anak-anaknya berkarakter!ternyata bukan soal makanan mereka saja, seperti berita bahwa orang Jepang menkonsumni protein lebih banyak daripada ras lain. Nutrition is very important, but without stimulation nothing. Nutrisi boleh oke, tapi jika tidak ada stimulasi pendidikan yang tepat, akan percuma....aku sedang melihat sekelilingku...yah...para wanita bekerja yang akhirnya memiliki anak, telah menyerahkan pendidikan anak mereka kepada pembantu, kepada baby sitter, kepada tempat bernama Tempat Penitiapan Anak, kepada ibunya, atau kepada ibu mertuanya. Jadi inget tulisan kemarin, bukankah surga ada di bawah tapak kaki ibu, bukan dibawah kaki nenek, bukan di bawah kaki mertua, bukan di bawah kaki pembantu. Maka aku berikan applaussss panjang untuk sahabat-sahabatku yang memutuskan menjadi ibu di rumah, mengurus anak-nak mereka. berbahahagialah suami mereka, anak-anak mereka dididik oleh ibu profesional. Sungguh saya tidak sedang menohok atau ingin menusuk teman-teman saya yang memutuskan menjadi ibu dengan tetap sambil bekerja, karena saya memahami pula latar belakang dan alasan masing-masing, dan saya paham betul bagaimana keputusan tetap bekerja itu diambil dengan perasaan penuh gejolak, kesedihan, dan juga pengorbanan. Kalian tentu tetap ibu-ibu yang istimewa dengan cara kalian. Tapi andaikan perempuan Indonesia bergerak bersama, kembali ke rumah, mendidik anak-anaknya sendiri, SDM Indonesia yang berkarakter tidak akan menjadi impian saja, bukan?)
Alangkah lebih baik jika para caleg wanita terpilih yang masih tebal naluri keibuannya. Segera menengok pendidikan anak sejak dini oleh ibu pendidikan Jepang dari dalam kawasan huni sewa tempat tinggal mereka. Tanpa mewujudkan cita-cita Kartini, cita-cita seluruh ibu Indonesia menjadi soko guru pendidikan, berapapun anggaran pendidikan akan dinaikkan oleh pemerintah yang akan datang. Dalam sekejap akan segera diketahui hasilnya, adalah kegagalan dan kegagalan lagi disegala bidang.
(makanya tidak heran, indonesia yang kaya raya ini, masih miskin juga...indonesia yang katanya ramah, tapi orangnya banyak korupsi, indonesia ini...murid-muridnya masih nyontek kalo UNAS, fuihhh sedihnya) (Bagi saya, wanita bekerja yang belum memiliki anak, nasihat ibu Anni Iwasaki terasa begitu dalam. Menjadi sebuah perenungan besar, apakah saya bisa mengikuti jejak para wanita Jepang untuk PROFESIONAL-TOTAL menjadi pendidik pertama dan terutama bagi anak-anak saya sendiri kelak? Dan sungguh Islam telah mengajarkan itu. “Yang terbaik diantara para perempuan adalah yang mengasihi, mengasuh anak, supportif dan patuh, dan yang terburuk diantara perempuan adalah yang suka mengenakan perhiasan dan egois, dan masuk surganya tidak lebih mungkin dari seekor gagak putih”. (HR. Bukhari dan Muslim) Allah Ya Robbi, bimbinglah hamba-Mu ini. Amin.
Kenapa Surga Tidak Berada di Pangkuan Ibu?
Apa artinya?
Mengapa bukan di telapak tangan ibu?
Mengapa bukan di pangkuan ibu?
Di telapak kaki ibu ada surga
Sebagai ibu, mungkin kita merasa
Betapa menjadi penentu jalan ke surga
Karena itu bisa menuntut hak
Bisa menuntut jasa
Sebagai ibu, mungkin kita berkata
Surga ada di telapak kaki ibu anakkku,
Kau tak boleh kasar pada ibu Kau harus hormat pada ibu
Surga hanya untuk anak yang berbakti pada ibu
Kau harus ikuti kata-kata ibu
Itukah maksud Tuhan
Itukah yang Tuhan mau
Itukah yang diajarkan Nabi
Ibu Jejakmu ada dalam diri anakmu
Ada bekas langkahmu pada anakmu P
erjalanan membesarkan anakmu
Sejak detik pertama kehamilan hingga akil baliq
Tidak terhitung pahala dan dosanya
Itulah yang menentukan anak-anakmu ke surga
*ditulis oleh drg. Wismiarti Tamin, Direktur Sekolah Al Falah Jakarta
Tulisan ini dipresentasikan dalam sebuah rapat yang baru saja aku ikuti, sebuah tulisan yang begitu menggetarkan hati...membuatku berderai air mata mengingat perjalanan panjang ibuku dalam membesarkan aku. Siapa yang mengajari kita untuk terbiasa sholat? Siapa yang mengingatkan kita untuk ngaji? Siapa yang cerewet mengingatkan apa yang BOLEH dan TIDAK BOLEH waktu kecil? Siapa yang memberi tahu itu SALAH dan BENAR? Siapa yang mengajari kita kali pertama? Siapa yang membuat fondasi dirimu ketika kecil? Siapa, kalau bukan IBU?
Ingatlah saat masa kecil, dimana kita selalu merepotkan ibu. Ingatlah masa remaja ketika mbandel, membantah ibu. Ingatlah saat-saat ketika sudah merasa besar dan berani mengambil keputusan-keputusan hidup, yang kadang menentang kehendak ibu...Ingatlah saat-saat ketika kau meninggalkan ibumu di masa tuanya. Maka sudah cukupkan penghormatan kita pada semua jasa ibu itu? Tidak, tidak pernah akan cukup, tidak akan pernah bisa dibayar lunas, bahkan sampai akhir hayat.
Kemudian...jika sekarang sudah menjadi ibu, atau akan menjadi ibu. Siapkah kita untuk menempuh perjalanan panjang, menapaki jejak-jejak langkah untuk diikuti oleh anak-anak kita, membangun fondasi untuk anak-anak kita. Setiap kata yang keluar dari lisan kita, itulah yang akan diikuti anak-anak. Setiap bentuk keputusan kita akan menjadi fondasi anak-anak bersikap. Mari kita melihat..Sudahkah kita menjaga lisan di depan anak-anak? Sudahkah kita memberi sikap teladan untuk anak-anak? I
bu...ketika anakmu bayi, dia belajar membedakan mainan, dia belajar membedakan mana mana kotak, mana lingkaran. Tahukah ibu...logika untuk membedakan benda itu yang akan dia pakai untuk membedakan SALAH dan BENAR ketika besar, membedakan BAIK dan BURUK, membedakan HALAL dan HARAM...Apa yang sudah ibu berikan pada anak-anakmu sejak engkau hamil sampai dia besar sekarang? Ibu...setiap kata, setiap sentuhan, setiap sikap, setiap nasihat...itulah yang akan mengantarkan anakmu ke surga, atau juga ke neraka...
Rabu, 05 Mei 2010
Mengejar Baiti Jannati (3)
Senin, 12 Oktober 2009
Hubbul Iman (tertulis setahun yang lalu)
Betapa indahnya ketika menghayati bahwa dengan menikah itu adalah sebuah kesempatan untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta. Betapa tidak? Ketika keindahan, kebahagiaan yang dirasakan maka kepada siapa kita ingat untuk bersyukur? Tentu kepada Allah SWT yang telah menjadi penyebab ini semua mungkin terjadi. Ketika masalah-masalah ringan, masalah-masalah besar mulai datang, maka kepada siapa kita akan mengadu kalau tidak kepada Allah..sebab mengadu pada sesama manusia hanya akan menambah malu dan sekaligus menambah dosa. Oleh sebab itu, ketika waktu bergulir dalam kehidupan pernikahan dengan segala dinamikanya maka tiada lain itulah datangnya kesempatan untuk semakin mendekat pada-NYA…
Maka teringatlah sebuah nasihat dari sahabat lamaku : Wahai para wanita, jika dulu bakti pertamamu pada sesama manusia (setelah ketaatan pada Allah tentunya) adalah kepada kedua orangtuamu, maka sejak engkau menikah, bakti pertamamu adalah kepada suamimu. Dan tahukah enagkau, ketaatan seorang istri pada suaminya adalah salah satu jalan menuju surga Allah…Subhanallah…
Berbakti pada orangtua pastilah dilandasi dengan cinta, begitu pula taat pada suami pastilah dilandasi cinta. Tapi tentunya, cinta kepada orangtua berbeda dengan cinta kepada suami.
Orangtua adalah seseorang yang kita kenal sejak masih kecil, yang sepanjang hidup, kita rasakan jasa-jasanya, segala kebaikannya dalam melimpahkan kasih sayangnya pada kita, yang darahnya mengalir di dalam darah kita. Maka, mencintai dan kemudian berbakti pada orangtua bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan…Seolah-olah sudah menjadi respon alamiah dalam jiwa kita untuk membahagiakan mereka. Sahabatku bilang, dalam kajian Islam ini disebut HUBBUL FITRIYAH, cinta yang berasal dari fitrah manusia.
Suami, pada mulanya adalah orang lain, yang mungkin baru kita kenal menjelang menikah. Dimana sebagian besar gambaran dirinya yang asli baru kita ketahui setelah menikah…Dan bahkan, dengan latar belakang yang berbeda kemudian perbedaan selalu muncul dalam keseharian sehingga yang muncul adalah gesekan-gesekan. Lalu bagaimana caranya melakukan ketaatan pada sosok suami dengan kondisi demikian. Sungguh, hanya bekal iman kepada ALLAH yang akan memudahkan proses itu. Keyakinan bahwa pasangan hidup kita, yang telah mulai dengan sebuah perjanjian akad nikah di depan ALLAH, adalah sosok terbaik yang dipilih oleh ALLAH untuk kita. Keyakinan bahwa dengan berbuat baik terhadap istri adalah amanah dari ALLAH yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat. Keyakinan bahwa ketaatan pada suami adalah bentuk ibadah mulia, yang akan mengantar para wanita menuju surga.
Dengan adanya hati yang mudah terbolak-balik dan iman yang biasa naik turun, cinta pada pasangan juga bisa mengalami pasang surut. Jikalau iman kita pada ALLAH sedang baik, insya Allah ketaatan kepada suami akan menjadi sesuatu yang mudah, cinta kepada istri menjadi sesuatu yang indah. Tetapi jikalau iman kita pada ALLAH sedang turun, maka ketaatan itu menjadi sesuatu yang sulit..cinta kepada istri menjadi suatu beban…Sahabatku bilang, cinta pada suami ini disebut HUBBUL IMAN, cinta yang dilandasi dengan iman kepada ALLAH.
Oleh karena itu, setiap kali teringat kita perlu panjatkan doa agar keimanan kita bisa meningkat, tidak sampai turun, agar kita bisa pertahankan cinta kita pada pasangan hidup kita hingga di akhir hayat…seraya terus bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan ALLAH, serta bersabar atas setiap masalah yang datang…sebab masalah-masalah itulah yang menguji keimanan kita, sehingga ketika kita bisa melampauinya maka derajat keimananan kita akan meningkat juga…Amin..Allahuma Amin.
Senin, 07 September 2009
Mengejar Baiti Jannati (2)
- Pertimbangkan Bank yang Dipilih. Yang jelas dikotominya, silakan pilih antara bank konvensional atau bank syariah, jelas keduanya beda. Produk KPR pada perbankan konvensional difahami sebagai Kredit Perumahan Rakyat yang akadnya didasarkan pada prinsip pinjam-meminjam dengan memanfaatkan bunga sebagai variabelnya. Pihak bank mengucurkan pinjaman bagi nasabah yang dimanfaatkan untuk keperluan KPR. Bank konven-sional mengambil keuntungan (profit) dari bunga pinjaman yang dikenakan kepada nasabah. Bank konvensional menetapkan bunga untuk setiap cicilan yang harus dibayar. Bunga yang dipraktekkan oleh perbankan konvensional merupakan riba yang ada dalam ajaran Islam, yaitu bagian dari riba nasi’ah. Sedangkan KPR yang dikembangkan oleh bank syariah dimaknai sebagai Ke-pemilikan Perumahan Rakyat yang mekanismenya didasarkan pada akad jual-beli (tabadduli). Dalam hal ini, bank syariah sebagai pihak penjual yang menjual produk KPR kepada nasabah. Sedang nasabah sebagai pihak pembeli. Karena prinsip yang digunakan dalam model ini adalah jual-beli, maka kelaziman pada akad jual-beli memungkinkan adanya proses tawar menawar antara pihak bank dengan nasabah. Keuntungan bank syariah pada produk KPR ini dalam bentuk margin penjualan yang dikenakan kepada pihak nasabah. Tingkat margin yang ditetapkan oleh bank syariah menjadi obyek pembeda yang memungkinkan antar bank syariah melakukan kompetisi dalam menentukan tingkat margin-nya. Bisa jadi, satu bank syariah mengambil margin keuntungannya lebih rendah dibanding dengan tingkat margin yang ada pada bank syariah lainnya, atau jika memungkinkan bisa kompetitif dengan tingkat bunga yang ditetapkan oleh perbankan konvensional. Biasanya, bank syariah dalam menjual produk KPR-nya menggunakan fasilitas pembiayaan murabahah yang memungkinkan nasabah untuk membayar KPR-nya secara angsuran. Di sini, ada unsur ta’awun (tolong-menolong) antara pihak bank syariah dengan nasabah. Nasabah tertolong oleh pihak bank syariah karena diberi keleluasaan membayar dengan melalui angsuran (cicilan). Sedang pihak bank tertolong dengan mendapatkan keuntungan (margin) dari penjualan KPR. Anda ingin tahu kami memilih apa? Kami ingin memenuhi tuntunan syariah Islam, jadi kami memilih Bank Syariah, yaitu Bank Muamalat Indonesia. Subhanalllah, ternyata juga mendapatkan keuntuangan finansial juga. Darimana itu, lihatlah tabel berikut :
- Bangun Komunikasi Terbuka antara Penjual dan Pembeli. Kalau Anda sedang berurusan dengan Developer perumahan, maka bangunlah komunikasi yang baik dengan tim marketing maupun orang-orang dikantornya agar Anda dapat kemudahan dalam mengurus semuanya (Oiya, jangan lupa cek ke kantor REI-Real Estate Indonesia terdekat untuk tahu apakah developer ini legal atau ilegal, daripada Anda ditipu). Kalau Anda membeli rumah second, seperti yang kami lakukan, maka bangunlah komunikasi yang baik dengan pihak penjual. Urusan antara penjual-pembeli cukup rumit. Pertama, keterbukaan masing-masing pihak, baik penjual (dalam menjelaskan kondisi rumah sesungguhnya) maupun pembeli (mengenai kesanggupan pembayaran, dll). Kedua, tawar-menawar harga yang membutuhkan hubungan silarurahmi yang baik agar tercipta keikhlasan masing-masing pihak, sebisa mungkin dua-duanya sama-sama merasa untung. Ketiga, kesediaan masing-masing pihak untuk mengurus segala dokumen yang diperlukan, tentunya membutuhkan komitmen untuk meluangkan waktu untuk mempersiapkan dan mengeluarkan biaya-biaya. Keempat, tawar-menawar masalah peralihan rumah.
- Siapkan Semua Dokumen Selengkap-lengkapnya. ini adalah bagian penting dari proses jual beli. Pengalaman kami sungguh menjadi pelajaran betapa pentingnya dokumen, karena hanya karena selembar kertas, segala urusan bisa tertunda. Baik, inilah sejumlah dokumen yang harus disiapkan : KTP Suami-Istri, Kartu Keluarga, Akta Nikah, Slip Gaji, Surat Keterangan Bekerja, Kartu NPWP-hayooo yang belum punya harus ngurus lhooo, Print-out rekening tabungan. Ingat pastikan, semua dokumen tersebut harus dalam keadaan hidup, hehehe masalah yang pernah jadi batu sandungan kami adalah kondisi KTP suami yang sudah habis masa berlakunya, yang baru kita ketahui menjelang realisasi KPR..musibah...akhirnya realisasi menunggu jadinya KTP yang baru. Nah kalau yang dibeli rumah second, maka semakin banyak persiapan dokumen, yaitu dokumen pihak penjual : KTP Suami-Istri, Kartu Keluarga, Akta Nikah, Kartu NPWP, Surat AKTA TANAH, SURAT IMB, dan SURAT PAJAK-bukti setoran & SPPTnya. Kok ya ini jadi pengalaman buat kami, Allah sedang menguji kesabaran mungkin. Pihak penjual ternyata belum punya Kartu NPWP, maka demi kelancaran...kami menawarkan diri untuk mengurusnya, bolak-balik ke Kantor Pajak. Ternyata juga, khusus rumah ini (dan beberapa rumah di kawasan RT tersebut) tidak terbit SPPT-nya, yang salah Kantor Pajak nggak ngeluarin SPPT-karena databasenya salah mungkin, malah kita warga negara yang TAAT PAJAK ini dibikin repot, sehingga pihak penjual harus mengurus dari RT-RW-Kelurahan-Kecamatan-Kantor Pajak. Wuihhh.
- Siapkan Dana Cukup, so pastilah...Dari harga rumah yang telah disepakati, maka siapkan dana paling tidak 10% dari harga rumah tersebut untuk keperluan biaya-biaya. Lho, apa saja kok banyak ya? Pertama, untuk biaya administrasi bank, yaitu untuk keperluan survey rumah, administrasi KPR, asuransi kebakaran, asuransi jiwa, dll. Kedua, untuk biaya notaris, yaitu pemeriksaan dokumen di Badan Pertanahan, Pembuatan Akta Jual Beli, Pembuatan Akta Balik Nama, Pengurusan Pajak, dll. Ketiga, untuk biaya pajak. Nah loe...segala transaksi di negara ini menimbulkan pajak demi pemasukan bagi negara. Khusus untuk jual beli rumah, Pihak Penjual dikenai Pajak Penghasilan atas penjualan rumah tersebut, dan Pihak Pembeli dikenal Pajak Pengalihan Pemilikan Tanah. Jangan lupakan juga pengeluaran kecil-kecil semacam ini : beli materai untuk ini- itu, telepon untuk koordinasi-pasti membengkak lho!, fotokopi macem2 dokumen, transportasi ngurus ke sana-sini, hiks..capeknya...demi sebuah rumah nie...
- Banyaklah Bertanya. Nah ini die, tips oke banget. Bingung itu bikin STRES, tahu belakangan sehingga merusak rencana dan rancangan yang sudah dibuat itu BETE. Maka kumpulkan informasi sebanyak-benyaknya sebelum mengambil keputusan apapun. Surfing di internet bisa membantu tapi bertanya pada orang yang sudah mengalami rasanya lebih sreg! Hal ini tentunya semata-mata memenuhi unsur penting dalam prinsip mengambil keputusan : KUMPULKAN DATA SEBELUM WAKTU PENGAMBILAN KEPUTUSAN.
- Berdo'a. Jika rumah itu menjadi rejeki Anda, Allah yang akan memudahkannya. Jika rumah itu bukan rejeki Anda, akan ada saja kesulitannya. Jika rumah itu rejeki Anda, tapi jalannya kok ya begitu sulit, itu tands Allah menyayangi Anda dan sekedar ingin menguji kesabaran Anda sebelum memberikan yang diinginkan. Indah, bukan...makanya selama proses ini berlangsung banyak berdo'a, agar keberkahan Allah selalu menyertai...
Selasa, 28 Juli 2009
Mengejar Baiti Jannati (1)
Perjalanan mencari rumah menjadi sarana untuk menguji kebersamaan suami-isteri. Pertama soal waktu, kami sama-sama bekerja sehingga sisa waktu luang tidak cukup banyak. Selain itu, di rumah masih mananti pekerjaan rumah tangga, di kampung ada amanah, di masjid ada amanah, di hari libur ada saja pihak yang membutuhkan waktu, ya saudara ya teman. Jadi, masing-masing harus mengelola waktu dengan baik. Kedua soal perbedaan pendapat, namanya juga dua orang berbeda, memilih rumah yang pertimbangannya beda, akhirnya berselisih pendapat juga, yang begini cukup menguras energi. Tapi, komitmen sedang kuat, bukan sekedar untuk ’aset kekayaan’ tetapi membeli rumah artinya membeli sebuah ’kesempatan untuk menjadi dewasa’. Dengan membeli rumah, kami bisa ’membeli’ sebuah proses untuk mengambil keputusan sekaligus ’membeli’ kesempatan untuk berlatih menyelesaikan masalah secara mandiri.
Nah, ketika berkeliling mencari rumah itulah banyak hal yang kami pelajari, fuihhhh. Anda ingin tahu, apa pertimbangan kami dalam memilih rumah
- HARGA..tentu saja rumah yang dibeli harus sesuai dengan kemampuan finansial kami. Begitu dapat bagus tapi mahal, ya minggu dulu dong....Kalau dapat yang sesuai kemampuan kami, barulah ditelusuri pertimbangan berikutnya.
- LOKASI...Beberapa teman kami memilih lokasi yang cukup jauh dari tempat kerja, dan sungguh kami sering merasa iba pada mereka. Jam berapa mereka berangkat, betapa panjang jalan yang harus dilalui, betapa banyak waktu yang dihabiskan di jalan, betapa lelah selama di jalan, dst...Maka, setiap kali akan melakukan survey calon rumah, kami selalu menghitung jarak dan waktu tempuh (termasuk mencatat tingkat kemacetan jalan, deket tapi jalannya macet ya percuma dong!)
- LUAS TANAH DAN BANGUNAN...Hehe, seneng dong punya rumah yang luas, tapi yang luas pastinya mahal...Nggak perlu luas, asal cukup aja..Maka setiap kami punya data baru soal rumah, kami selalu melihat ukurannya berapa? Suamiku sudah berangan-angan bahwa di rumah kami ada ruang tamu yang cukup, sebab beberapa kali kami sebagai tamu pernah merasa risih jika bertamu di ruang sempit. Jadi kami akan berusaha untuk memberi kenyamanan pada tamu-tamu kami. Kami ingin punya kamar yang cukup, untuk keluarga, anak-anak, atau orang yang menginap. Kami ingin punya musholla di rumah. Dan kami juga ingin meluangkan sejumlah ruang untuk digunakan berwirausaha (Lha kok banyak syaratnya, ini yang bikin susah cari rumah!).
- STATUS TANAH...Ini dia juga penting, yang paling aman cari yang sudah SHM (Sertifikat Hak Milik) tinggal satu langkah..Balik Nama di Notaris. Nah kalo HGB (Hak Guna Bangunan), masih jadi opsi lumayan karena dua jenis sertifikat inilah yang layak untuk dijadikan jaminan KPR di Bank. Jangan sampai yang PETOK-D, susah n rumit nanti urusannya, apalagi yang model SURAT IJO, sama sulitnya...
- FAKTOR LAIN-LAIN...ini juga mendukung kita dalam mengambil keputusan. Misalnya lingkungan bebas banjir apa enggak-ini penting lho! surabaya kan rawan banjir, lingkungannya nyaman tidak untuk bertetangga (hayo...enak di kampung apa di perumahan?), ada masjid dengan aktivitas ibadahnya, ada jalur angkutan umumnya, ada fasilitas umum untuk anak, sekolah, pasar, toko, dan lain-lain.
Dengan pertimbangan itu, ya pantes lah kalau sulit cari rumah yang cocok. Sudah cocok sama harganya..eh, lokasinya jauh banget, sudah gitu rumahnya rungsep lagi. Udah cocok harga, lokasi, bentuk rumah, eh...di perkampuangan yang sepertinya kurang nyaman. Sudah cocok sama semunya, eh..karena nggak cepet-cepet di-booking, jadi sudah laku...keduluan dibeli orang lain...sedihnya...Sampai pada suatu titik : Ya Allah, jika sebuah rumah adalah rezeki kami, mudahkanlah untuk menemukannya. Subhanallah, akhirnya kok ya ada yang cocok...harga lumayan, murah nggak, mahal banget nggak juga, cukup dengan prediksi dana yang kita miliki dan kemampuan mng-KPR Bank dalam 10 tahun ke depan. Lokasi, Luas tanah, Status tanah oke...Maka ini saatnya mengambil keputusan, sebelum diambil orang lain. Bismillah...
Rabu, 10 Juni 2009
Adolescent Stress Management and Family Education : A Proposed Research

Previous researches stated that parent-adolescent conflicts increase during the middle of school years and involves the everyday activities in family. The other researches also stated that adolescent are strongly influenced by peers. These two environments are great stressors for adolescent. As the consequence, adolescent have to improve their stress management skills. Family and peers environment can be a stressor situation and also a chance for adolescent to learn stress management skills. The author believes that family environment has more impact on adolescent.
In other side, developmental tasks are common pattern to find ideal condition of human life in stages. The tasks have a role as guidance about what are supposed to do to conform in the society. In other words, developmental tasks can be a comparing standard to evaluate adolescent quality of psychological life.
This research will examine the pattern stress management skills of adolescent and their family education background. Specifically, this research will explore characteristic of adolescent family education background that build the adolescent stress management skills. As a comparing, this research will find the correlation between those two aspects with finishing developmental tasks in adolescence.
This research will be done as quantitative-qualitative study that examines adolescent stress management skills from some several family backgrounds. There will be some tools to collect the data such as structured interview, structured observation, measurement scales, and standardized inventory. This research will use multi-methods to analyze the data.
The author hopes this research will give a great contribution on to discipline of educational psychology in terms of importance family education aspect in adolescent maturity. The author also hopes that this research can be held in Indonesia because of the relevant improving researches and discourses about education in this country.
The author has explored the concept of stress management skills through some researches at graduate school. This research will be an opportunity to improve expertise in this topic. The author’s profession as a school counselor supports to explore the dynamic of education process, especially adolescent. The author realized that education system in Indonesia is left behind the other countries. It makes Indonesia has low quality of human resources that gives the impact to slow down the progress in Indonesia development. The research really concern of the education in Indonesia, hopefully this effort is a significance to be applied in Indonesia.
