Jumat, 07 Mei 2010

Kenapa Surga Tidak Berada di Pangkuan Ibu?

Surga ada di telapak kaki ibu
Apa artinya?
Mengapa bukan di telapak tangan ibu?
Mengapa bukan di pangkuan ibu?
Di telapak kaki ibu ada surga
Sebagai ibu, mungkin kita merasa
Betapa menjadi penentu jalan ke surga
Karena itu bisa menuntut hak
Bisa menuntut jasa
Sebagai ibu, mungkin kita berkata
Surga ada di telapak kaki ibu anakkku,
Kau tak boleh kasar pada ibu Kau harus hormat pada ibu
Surga hanya untuk anak yang berbakti pada ibu
Kau harus ikuti kata-kata ibu
Itukah maksud Tuhan
Itukah yang Tuhan mau
Itukah yang diajarkan Nabi
Ibu Jejakmu ada dalam diri anakmu
Ada bekas langkahmu pada anakmu P
erjalanan membesarkan anakmu
Sejak detik pertama kehamilan hingga akil baliq
Tidak terhitung pahala dan dosanya
Itulah yang menentukan anak-anakmu ke surga
*ditulis oleh drg. Wismiarti Tamin, Direktur Sekolah Al Falah Jakarta


Tulisan ini dipresentasikan dalam sebuah rapat yang baru saja aku ikuti, sebuah tulisan yang begitu menggetarkan hati...membuatku berderai air mata mengingat perjalanan panjang ibuku dalam membesarkan aku. Siapa yang mengajari kita untuk terbiasa sholat? Siapa yang mengingatkan kita untuk ngaji? Siapa yang cerewet mengingatkan apa yang BOLEH dan TIDAK BOLEH waktu kecil? Siapa yang memberi tahu itu SALAH dan BENAR? Siapa yang mengajari kita kali pertama? Siapa yang membuat fondasi dirimu ketika kecil? Siapa, kalau bukan IBU?


Ingatlah saat masa kecil, dimana kita selalu merepotkan ibu. Ingatlah masa remaja ketika mbandel, membantah ibu. Ingatlah saat-saat ketika sudah merasa besar dan berani mengambil keputusan-keputusan hidup, yang kadang menentang kehendak ibu...Ingatlah saat-saat ketika kau meninggalkan ibumu di masa tuanya. Maka sudah cukupkan penghormatan kita pada semua jasa ibu itu? Tidak, tidak pernah akan cukup, tidak akan pernah bisa dibayar lunas, bahkan sampai akhir hayat.


Kemudian...jika sekarang sudah menjadi ibu, atau akan menjadi ibu. Siapkah kita untuk menempuh perjalanan panjang, menapaki jejak-jejak langkah untuk diikuti oleh anak-anak kita, membangun fondasi untuk anak-anak kita. Setiap kata yang keluar dari lisan kita, itulah yang akan diikuti anak-anak. Setiap bentuk keputusan kita akan menjadi fondasi anak-anak bersikap. Mari kita melihat..Sudahkah kita menjaga lisan di depan anak-anak? Sudahkah kita memberi sikap teladan untuk anak-anak? I


bu...ketika anakmu bayi, dia belajar membedakan mainan, dia belajar membedakan mana mana kotak, mana lingkaran. Tahukah ibu...logika untuk membedakan benda itu yang akan dia pakai untuk membedakan SALAH dan BENAR ketika besar, membedakan BAIK dan BURUK, membedakan HALAL dan HARAM...Apa yang sudah ibu berikan pada anak-anakmu sejak engkau hamil sampai dia besar sekarang? Ibu...setiap kata, setiap sentuhan, setiap sikap, setiap nasihat...itulah yang akan mengantarkan anakmu ke surga, atau juga ke neraka...

Ternyata, APA YANG TERJADI itu TIDAK PENTING

Sebuah hikmah datangnya bisa kapan saja, dan aku tidak menyangka bahwa aku dipertemukan dengan hikmah di atas ketika aku sedang menaiki sepeda motor, duduk di bagian belakang, bertumpu pada punggung suamiku...pada suatu pagi hari, meninggalkan kantor menuju sebuah tempat di jalan kartini, surabaya...sebuah laboratorium medis.Pada waktu itu berbagai macam hal terbayang, bayangan-bayangan tentang apa yang akan aku lalui...bayangan tentang pekerjaan kantor yang aku tinggalkan, bayangan tentang masalah-masalah klienku, ada yang anaknya autis, ada yang trauma memulai hubungan pasca perceraian, ada yang sedang proses sidang cerai, bayangan tentang kejadian kemarin, berkumpul dengan sahabat-sahabatku, ada yang barusan melahirkan, ada yang sudah 3 tahun menikah belum dikarunia anak, ada yang punya anak habis selesai sakit dari opname, cerita-cerita mereka terngiang di kepalaku...
Kemudian tiba-tiba ada tulisan-tulisan tersaji di depan layar komputer di dalam pikiranku, yah..tentang artikel-artikel internet itu...Pemeriksaan Saluran Telur HSG, dan kemudian terbayang bahwa sebentar lagi, kakiku akan dipenthang, alat vitalku akan dibuka, untuk dimasukkan cairan, kemudian seperti sharing orang-orang yang sudah mengalami, akan datang rasa sakit di perut, mules luar biasa seperti orang haid, tapi mungkin lebih dahsyat...pikiran-pikiran negatif datang, haaaa ntar sakit...ntar hasilnya gimana, dan seterusnya...tapi tiba-tiba ada suara hati yang begitu menenangkan, berkata : tenang saja, semua akan baik-baik saja asal kamu tetap yakin pada Allah, yakin bahwa Allah selalu memberi yang terbaik untuk hamba-Nya, semua akan baik-baik saja asalkan imanmu tetap teguh, asal kamu bersabar, asal kamu tetap bersyukur, tidak berhenti berikhtiar, dan tawakkal pada Allah...
Yah...ketenangan itu tiba-tiba saja hadir, bukankah aku sendiri yang mengambil keputusan untuk ini. Dengan tujuan, aku ingin pastikan kondisi organ reproduksi dalam tubuhku, sebagai bentuk ikhtiar untuk keinginan menjadi seorang ibu, ya...ikhtiar kan. Bahwa nanti akan disertai rasa sakit, itu tidak penting...yang penting adalah bagaimana aku menyikapi rasa sakit itu, apakah aku mengeluh, ataukah aku bisa bersabar, bahkan aku bisa bersyukur bahwa ini suatu pertanda bahwa secara medis aku baik-baik saja. Bahwa nanti hasilnya baik atau tidak baik itu penting, yang penting bagaimana aku menyikapinya. Kalo seandainya hasilnya tidak baik, ya bagaimana aku bisa sabar itu yang penting. kalo seandainya hasilnya baik, ya bagaimana aku bersyukur, itu yang penting.
Terdengung di kepalaku suara suamiku di suatu pagi, “yang penting sekarang kita ikhtiar, mencari jalan yang logika masuk akal, dan tentu saja kita harus lebih menata diri masing-masing, jaga sikap, jaga akhlak, Allah nggak akan memberi jika kita tidak siap, jadi mari kita menyiapkan diri sebisa kita”Dan terbayang pula teman, sahabat yang mungkin mengalami hal yang sama denganku, sedang menantikan menjadi ibu di tahun-tahun pernikahan yang sudah berjalan....
TIDAK PENTING jika ternyata memang ada hambatan tubuh kita untuk hamil, yang kista lah, yang gangguan hormon lah, yang saluran terlurnya tersumbat lah, atau tidak penting juga bahwa ternyata kita baik-baik saja tapi belum juga bisa punya anak. YANG PENTING adalah sikap kita ketika menghadapi itu. Sekali lagi, bersabar dan bersyukurMaka terbayang pula masa-masa kesendirian dulu..ketika satu per satu rekan sejawat menikah, ketika satu per satu sahabat menikah...aku juga pernah mengeluhkan, kok nggak ada tanda-tanda yah aku bakal dapet jodoh...hiks...sampai pada suatu pagi, seorang ustad mengingatkan...urus saja anak-anak kita (murid-murid maksudnya) dengan baik, kita bantu anak-anak jadi anak yang berakhlak, insyaAllah..Allah yang akan mengurus kebutuhan kita...maka yg terjadi, aku nggak mikirin jodoh ato nikah, aku kerja dan kerja, waktu luang aku kursus cari ilmu, dan tiba2 ada orang mengajakku menikah..datang tanpa peringatan.
Jadi, TIDAK PENTING kita belum juga menemukan jodoh, sementara teman-teman kita sudah pada menikah dan punya anak...YANG PENTING adalah bagaimana kita menyikapinya, bagaimana kita tetap yakin Allah akan mempertemukan dengan yang terbaik, yakin bahwa Allah tahu kapn waktu yang terbaik, dan bagimana kita mengisi waktu yang diberi Allah ini selagi kita masih sendiri.
Ahhh terbayang juga seorang ibu yang menangisi anaknya yang nafasnya tersedat-sendat ada di sebuah kamar rumah sakit, dengan seorang suami yang terduduk di pojok ruangan...menyesali yang sudah terjadi...sebenarnya TIDAK PENTING anak kita sakit, atau bahkan jika suatu saat anak kita diambil oleh-NYA seperti bayangan tentang sahabat-sahabatku yang harus dikuret...itu TIDAK PENTING...yang penting sekali lagi adalah bagimana menyikapinya, apa kemudian menyalahkan Allah? Naudzubillah....
Tiba-tiba terbayang juga, anak-anak autis..anak2 hiperaktif, anak2 terlambat bicara yang sehari-hari menjadi pergumulanku...bagaimana ya perasaan orangtua mereka? setiap kali sesi konsultasi atau evaluasi terapi, wajah-wajah orangtua yang penuh harap dan penuh cemas, menanti kata-kata yang akan kusampaikan. sebenarnya kan TIDAK BEGITU PENTING apa yang saya sampaikan, yang penting bagaimana mereka bersikap dengan adanya pernyataan saya. Sedih, menyesal, bolehlah...manusiawi, tapi YANG LEBIH PENTING, adalah menerima dengan ikhlas anak-anak kita dengan segala kelebihan dan keterbatasan mereka, atau dengan segala perbedaan mereka dengan anak-anak pada umumnya. dan YANG PENTING adalah sikap kita untuk terus berikhtiar dalam menyembuhkan, atau setidaknya meringankan dan membantu mereka tetap bertahan hidup di masyarakat dengan segala keterbatasan mereka..
Kemudian terbayang pula kasus perceraian yang sedang kutangani..ada seorang istri yang berkonsultasi tentang suaminya yang pemarah, kasar, dan tidak memperhatikan anak-anak...dalam kasus ini, TIDAK PENTING punya suami yang pemarah, YANG PENTING adalah sikap kita, bagaimana mencari solusi itu, bagaimana kita tetep yakin pada Allah bahwa ini adalah ujian, bukannya malah cari pelampiasan dan mencari pelindung laki-laki lain...Atau cerita seorang suami yang bercerita bahwa istrinya tidak menghargai dia, suka membantah, dan tidak peduli dengan anak-anak. Punya istri seperti itu memang stres, tapi STRES itu TIDAK PENTING, yang penting bagaimana kita menyikapinya.
PILIHAN-PILIHAN SIKAP ketika kita menghadapi sesuatu LEBIH PENTING daripada apa yang sedng terjadi. Karena pilihan sikap itulah yang mencerminkan kualitas diri kita, kualitas akhlak kita, kualitas keimana kita...karena sesuangguhnya APA SAJA YANG TERJADI pada kita itu semua hanya UJIAN untuk menjadi orang yang beriman
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?." Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (Q.S. Ali Imran 14-17)

Rabu, 05 Mei 2010

Mengejar Baiti Jannati (3)

Pertama-tama alhamulillah...dengan serangkaian perjuangan (cie....), akhirnya kami bisa menempati rumah baru (cat: rumah second yang kami beli dengan meng-KPR, dengan sedikit polesan, lumayan keliatan baru, hehe...). Betul itu perjuangan, ratusan atau ribuan kilometer jalan kami tempuh untuk mencari rumah tinggal yang cocok, puluhan perumahan & kampung-kampung kami survey, akhirnya memutuskan untuk beli rumah baru, akhirnya dijual lagi meski belum jadi karena tidak sreg (untung ada yang mau beli!), lalu kami menemukan, tepatnya Allah mempertemukan kami dengan rumah, dimana orang yang tinggal disitu betul-betul ingin segera menjualnya...setelah terseok-seok (lebay yang ini..) dalam melakukan renovasi karena terhenti bbrp kali karena KANKER, alias kantong kering..toh selesai juga, meski akhirnya kami perlu mengecat sendiri bagaian-bagian tertentu. Nah yang ini, memori dan insting masa kecilku sedikit berguna, sebab jaman dulu sepulang sekolah sering diajak bapak ke proyek rumah yang dibangun, jadi aku sering liat tukang-tukang bangunan bekerja...
Dan long weekend kemarin jadi waktu yang pas untuk ngurus pindahan. Hari jum'at bersih-bersih, hari sabtu angkut-angkut barang tahap I, hari Ahad angkut-angkut tahap II. Dan tadi malam adalah malam pertama kami menempati rumah itu. Banyak keluarga dari suami ikut mengantar acara pindahan ini, beberapa saudara dari Malang datang juga Bulek-bulek, Sepupu, Adikku, dan Ibu..sayang Bapak nggak bisa...Nah demi menemani anaknya yang menempati rumah barunya, ibuku tiba-tiba memutuskan untuk menginap, tidak ikut pulang ke Malang bersama yang lain...jadilah kami tadi malam bertiga di rumah itu. Dan tentu saja aku memilih menemani ibuku tidur daripada tidur sama suami, hehehe...sebab aku teringat kejadian 6 tahun yang lalu...
6 tahun yang lalu, tanggal 30 Maret sore hari tiba aku dapt telepon : Kris, ibu wis numpak sepur mo nginep dikostmu ya, paling ntar maghrib nyampe...dan betul menjelang adzan maghrib udah dikostku, naik becak dari stasiun kereta api Gubeng. Waktu terima telepon, yang jelas satu pikiranku : rencana buyar...pada malam itu, rencananya ada pergi2, makan2 karena itu hari ultahku. Ibu uda telepon dari hari sebelumnya, tanya mau pulang apa nggak pas ultah, soalnya kalo pulang ibu mau masak2 spesial, dan kubilang nggak bisa pulang banyak kegiatan (padahal aku memang lebih ingin menghabiskan waktu tidak dengan keluarga) huhhhhh....
Akhirnya malam itu, ibu minta diajak ke rumah makan yang enak, trus makan2 deh bertiga sama adekku juga...Aku tanya sama ibu: kenapa sie, jauh2 dari Malang, sendirian (karena Bapak kerja di luar kota), datang kesini? Ibu cuma bilang : yah, ibu pengen ketemu anak aja, kalo kamu nggak bisa pulang, ya ibu aja yang kesini...akhirnya malam hari juga nggak ngobrol banyak2, tidur bareng gtu aja...buat aku biasa kali, tapi buat ibu yang suaaayangggg sama anaknya, spesial kali ya...aku sadar, harusnya waktu ibu nanya, nggak pulang tha? itu artinya ibu ingin aku pulang, dan seharusnya aku pulang!
Yang jelas, aku terharu...aku jadi ingat, sejak usia 18 tahun (10 tahun yang lalu) aku putuskan untuk keluar dari rumah..kuliah di Surabaya, bekerja di Surabaya, dan berumahtangga di Surabaya. Maka sejak usia 18 tahun itu, waktuku untuk 'mengabdi' pada orangtua sangat sedikit, hanya dengan telepon2, dan ketika pulang ke Malang untuk menyenangkan hati mereka...10 tahun terakhir, dimana aku ketika ibuku pulang kerja dan badannya pegal, ketika dulu aku masih pijat2 ibu, dimana ketika ibu sakit flu berhari-hari, dimana aku ketika bbrp hr yg lalu bapakku sakit panas sampe 3 hari lebih, dimana aku ketika ibu terserang sakit kepala vertigo sampe untuk ruku' n sujud peningnya minta ampun...yah, aku sedang sibuk dg kehidupanku sendiri..Maafkan aku, Bu...dan tadi malam ibuku bilang pengen nginap semalem aja...mungkin maksudnya untuk nyenengin anaknya, nemenin anaknya di hari pertama menempati rumah baru...terus kapan aku menyenngkan orangtua?
Bu,... Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan T
ak mampu ku membalas...ibu...ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
(Ibu by Iwan Fals, satu lagu favoritku)
NB : Wahai sobat semua inilah alamat baruku
Perum Taman Suko Asri II Blok O No. 14A RT 33 RW 08,
Desa Suko Kec. Sukodono Sidoarjo

Senin, 26 Oktober 2009

Menata Ulang Niat Bekerja

Pada hari Senin ini, dimana orang-orang biasa mulai bekerja setelah jeda libur 1 atau 2 hari, aku ingin berbagi tentang sebuah tuntunan. Aku baca dari buku "The Ultimate Psychology. Psikologi Sempurna Ala Nabi Saw" buah karya Muhammad Ustman Najati.
Suatu hari, Rasulullah dusuk bersama para saharabatnya. Lantas mereka melihat ada seorang pemuda yang sangat kuat pergi dari rumahnya pagi-pagi sekali untuk bekerja. Maka orang-orang berkata, Celakalah pemuda ini. Andai saja masa muda dan kekuatannya dipergunakan di jalan Allah". Maka Rasulullah bersabda, "Jika ia keluar untuk anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar bekerja bagi kedua orangtuanya yang telah lanjut usia, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk dirinya agar tidak meminta-minta, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk keluarganya, maka ia berada di jalan Allah. Namun jika ia bekerja untuk membanggakan diri dan untuk tujuan menimbun harta, maka ia berada di jalan Thagut. HR Ath-Thabrani, kualitas sanadnya dhaif.

Meskipun ini adalah hadits kualitas lemah, para ulama bersepakat bahwa hal ini masih bisa diamalkan. Maka hari ini pun aku bertanya lagi pada diriku sendiri : untuk apa aku berangkat pagi-pagi bekerja. Aku masih ingat ketika selesai kuliah, aku bertekad : aku harus bekerja, segera, dengan bekal ijazah S1 ini, sebab aku ingin mandiri secara finansial, setelah menggantungkan 22 tahun hidupku pada orangtua. Niat ini kembali direvisi pasca-pernikahan. Teringat jelas patron dari suami : jangan sekali-kali meniatkan bekerja untuk mencari uang, karena mencari nafkah itu tugas suami. Ketika berkangkat bekerja, berniatlah untuk mengamalkan ilmu agar bermanfaat buat orang banyak, mengembangkan dirimu, menambah ilmu agar barokah. Insya Allah, aku selalu berusaha teguh memegang niat ini. Mudah-mudahan Allah selalu melindungi. Amin.
Nah, waktu aku membaca hadits ini, termenunglah diriku...Pernahkan aku bekerja dengan niat berbangga diri. Ungkapan : aku gitu lho! Astagfirullah...Sebagaimana sifat hati yang mudah terbolak-balik, kusadari ternyata pernah juga aku berbangga diri, dan ini jalan THAGUT! Astagfirullah...Ya Allah bimbinglah hamba-Mu ini di jalan yang lurus.Amin

Senin, 12 Oktober 2009

Hubbul Iman (tertulis setahun yang lalu)

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman sesama ibu rumah tangga. Saya menyatakan bahwa pernikahan itu sungguh adalah sebuah tanda kebesaran ALLAH…begitu banyak kejadian yang merupakan karunia datang setelah kita menikah…Ketika dahulu masih sendiri, mungkin ada teman-teman dekat dan keluarga yang begitu memperhatikan kita, tetapi pasangan hidup kita adalah seseorang (yang mulanya orang lain) kemudian menjadi begitu perhatian dan mencurahkan segala yang dia miliki untuk kebaikan pasangannya. Tidakkah itu suatu tanda kebesaranNYA?

Betapa indahnya ketika menghayati bahwa dengan menikah itu adalah sebuah kesempatan untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta. Betapa tidak? Ketika keindahan, kebahagiaan yang dirasakan maka kepada siapa kita ingat untuk bersyukur? Tentu kepada Allah SWT yang telah menjadi penyebab ini semua mungkin terjadi. Ketika masalah-masalah ringan, masalah-masalah besar mulai datang, maka kepada siapa kita akan mengadu kalau tidak kepada Allah..sebab mengadu pada sesama manusia hanya akan menambah malu dan sekaligus menambah dosa. Oleh sebab itu, ketika waktu bergulir dalam kehidupan pernikahan dengan segala dinamikanya maka tiada lain itulah datangnya kesempatan untuk semakin mendekat pada-NYA…

Maka teringatlah sebuah nasihat dari sahabat lamaku : Wahai para wanita, jika dulu bakti pertamamu pada sesama manusia (setelah ketaatan pada Allah tentunya) adalah kepada kedua orangtuamu, maka sejak engkau menikah, bakti pertamamu adalah kepada suamimu. Dan tahukah enagkau, ketaatan seorang istri pada suaminya adalah salah satu jalan menuju surga Allah…Subhanallah…

Berbakti pada orangtua pastilah dilandasi dengan cinta, begitu pula taat pada suami pastilah dilandasi cinta. Tapi tentunya, cinta kepada orangtua berbeda dengan cinta kepada suami.
Orangtua adalah seseorang yang kita kenal sejak masih kecil, yang sepanjang hidup, kita rasakan jasa-jasanya, segala kebaikannya dalam melimpahkan kasih sayangnya pada kita, yang darahnya mengalir di dalam darah kita. Maka, mencintai dan kemudian berbakti pada orangtua bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan…Seolah-olah sudah menjadi respon alamiah dalam jiwa kita untuk membahagiakan mereka. Sahabatku bilang, dalam kajian Islam ini disebut HUBBUL FITRIYAH, cinta yang berasal dari fitrah manusia.

Suami, pada mulanya adalah orang lain, yang mungkin baru kita kenal menjelang menikah. Dimana sebagian besar gambaran dirinya yang asli baru kita ketahui setelah menikah…Dan bahkan, dengan latar belakang yang berbeda kemudian perbedaan selalu muncul dalam keseharian sehingga yang muncul adalah gesekan-gesekan. Lalu bagaimana caranya melakukan ketaatan pada sosok suami dengan kondisi demikian. Sungguh, hanya bekal iman kepada ALLAH yang akan memudahkan proses itu. Keyakinan bahwa pasangan hidup kita, yang telah mulai dengan sebuah perjanjian akad nikah di depan ALLAH, adalah sosok terbaik yang dipilih oleh ALLAH untuk kita. Keyakinan bahwa dengan berbuat baik terhadap istri adalah amanah dari ALLAH yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat. Keyakinan bahwa ketaatan pada suami adalah bentuk ibadah mulia, yang akan mengantar para wanita menuju surga.

Dengan adanya hati yang mudah terbolak-balik dan iman yang biasa naik turun, cinta pada pasangan juga bisa mengalami pasang surut. Jikalau iman kita pada ALLAH sedang baik, insya Allah ketaatan kepada suami akan menjadi sesuatu yang mudah, cinta kepada istri menjadi sesuatu yang indah. Tetapi jikalau iman kita pada ALLAH sedang turun, maka ketaatan itu menjadi sesuatu yang sulit..cinta kepada istri menjadi suatu beban…Sahabatku bilang, cinta pada suami ini disebut HUBBUL IMAN, cinta yang dilandasi dengan iman kepada ALLAH.

Oleh karena itu, setiap kali teringat kita perlu panjatkan doa agar keimanan kita bisa meningkat, tidak sampai turun, agar kita bisa pertahankan cinta kita pada pasangan hidup kita hingga di akhir hayat…seraya terus bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan ALLAH, serta bersabar atas setiap masalah yang datang…sebab masalah-masalah itulah yang menguji keimanan kita, sehingga ketika kita bisa melampauinya maka derajat keimananan kita akan meningkat juga…Amin..Allahuma Amin.