Rabu, 19 Mei 2010

Dahsyatnya CINTA

Ceritanya, Ustadz Abdul Kadir Baraja ingin bertemu denganku (ting..ting...orang penting ini, agenda2 nggak penting ditunda dulu). Kali pertama sebelumnya, beliau datang untuk mengatrakan seseorang untuk konsultasi. Yang ini, apa lagi ya? Begini lanjutannya...


Abdul Kadir Baraja told :
Ustadzah sekali-kali harus ikut saya ke Malang (lha ayuk..itu kota kelahiran saya), di sebuah desa terpencil, di daerah Tumpang ada sebuah tempat yang perlu kita kunjungi (ahh, makin penasaran, masak aku nggak tahu tempat unik di malang...lha iyalah, udah 10 tahun nggak di sana tiap hr)

Di sana, ada seorang ustad, mantan dosen Akuntansi Unmer, bersama istrinya merawat orang-orang gila. Mereka sudah melakukan itu selama 10 tahun (nah..pas..aku nggak tahu, pas ada, pas aku keluar dari Malang). Mereka merawat orang-orang gila ini nggak pake' obat penenang SAMA SEKALI, cuma pake' QUR'AN dan HADITS. Dan alumninya tempat ini-orang-orang gila yang akhirnya sembuh dan bisa kembali ke masyarakat- jumlahnya sudah ratusan. Kamu tahu apa KENDARAAN orang ini, cuma satu : CINTA..iya...CINTA. Dia merawat orang-orang gila itu dengan penuh cinta, ada yang merusak dimaafkan, nggak ada keerasan, ada yang badannya kumal, nggak ngerti mandi, ya dimandikan sama ustadz ini, ada yang buang hajat dimana-mana ya dia bersihkan, subhanallah..sampe yang nggak ngerti cebok, dia cebokin...dia rawat orang-orang gila itu seperti anaknya, yg kadang-kadang oleh keluarga mereka sendiri sudah tidak dipedulikan, malah lebih senang kalo mati. Tapi sama ustadz ini dirawat betul, diajari menata dirinya sendiri, tiap hari dibacakan Qur'an dan Hadits.Saya melihat sendiri, gimana anehnya orang gila ini. Ada yang ketawa sendiri, ada yang pandangan kosong, ada yang banyak omong, ada yang suka ngamuk2. Dan ustadz ini kok begitu sabar, telaten mendidik mereka satu per satu.

Kata ustadz ini : mereka bukan orang GILA, tapi mereka adalah orang yang sedang kena COBAAN. Orang GILA itu adalah orang WARAS yang berbuat MAKSIAT..baru itu bener2 gila...

Ustadzah harus renungkan ini. Ini adalah sumbangan besar untuk disiplin ilmu Anda. bahwa yang namanya terapi itu sebetulnya nggak perlu pake' obat-obatan , tapi bisa cukup dengan QUR'AN dan HADITS yang disampaikan dengan CINTA. Ini benar-benar tentang Dahsyatnya CINTA. Ustadz ini betul-betul bisa menunjukkan CINTA kepada sesama, pengabdian yang begitu dalam. Bagaimana tidak? karirnya sebagai dosen, dia tinggalkan untuk merawat orang-orang ini, dia hidup sederhana, dan tetap bisa menghidupi istri dan satu anaknya yang masih kecil, padahal umurnya masih muda..belum 40 tahun, tapi kebijaksanaan hidupnya luar biasa...


Dalam diskusi 3 orang, antara saya, Ustad Abdul Kadir Baraja dan Ustad Nur Hidayat, betul2 membuat kami merasa "tersungkur", mengingat kebesan jiwa, keluasan hati, kekuatan sabar, dan iman ustadz di daerah Tumpang, Malang itu. Yang dengan kesediaannya, mencari, menerima, menampung, dan merawat orang-orang gila...


Ustad Nur : Jika orang gila yang sudah tidak dipedulikan oleh keluarganya, bisa berubah menjadi baik. Maka anak-anak didik kita di Al Hikmah ini bisa juga berubah bukan? Jika anak-anaknya belum berubah, mungkin saja gurunya kurang CINTA pada anak-anaknya


Ustad Kadir : Jadi seorang ibu yang menyerahkan anaknya pada pengasuh, baby sitter semacam itu, berarti ibu ini kurang CINTA pada anak-anaknya. Mereka lebih pentingkan pekerjaan mereka.


Cerita tentang ustadz yang merawat orang gila ini, semoga menjadi sebuah motivasi bagi kita, bahwa di luar sana ada orang-orang yang penuh cinta, sabar, dan iman berjuang demi sebagian orang dalam masyarakat. Semoga mengetuk hati kita untuk lebih peduli dengan sesama. Jika Ustad Nur berharap guru-guru bisa lebih CINTA pada anak didiknya, agar pendidikan itu bisa MENGUBAH...Saya juga ingin mengajak para orangtua untuk menCINTAi anak-anak mereka dengan tulus, dengan memberikan komitemn, perhatian, dan doa tulus untuk anak-anak mereka, jangan sampai menyerahkan semua proses pendidikan pada sekolah. Sekolah butuh orangtua. Jika Ustad Kadir mengira ibu-ibu yang tidak mengasuh anaknya itu kurang CINTA...Wahai para ibu, mari kita perkuat cinta pada anak-anak kita, dengan cara kita...dengan segala keterbatasan kita Untuk semuanya saja, mari kita bertindak dengan CINTA, mari bekerja dengan CINTA, mari kita beribadah dengan CINTA

Jumat, 07 Mei 2010

Ibu, Pendidik Manusia yang Pertama-tama

Beberapa hari terakhir, saya sedang mempelajari tulisan ibu Anni Iwasaki. Siapa dia? yang jelas saya juga baru tahu namanya lewat Facebook. Waktu lihat profilnya sekilas, menarik, add aja ahhh. Ternyata, setelah saya tanya Mbah Google, lewat tulisan-tulisannya ibu Anni ada sebuah DAKWAH mulia, bagi kita para wanita khususnya, untuk kembali pada peran hakiki wanita menjadi ibu. Bukan sekedar ibu yang bisa hamil dan melahirkan, tetapi ibu yang PROFESIONAL, mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan sepenuh hati. Simaklah tulisan ibu Anni dan ibu Ani, hehe....jadi agak panjang, mudah-mudahan betah membaca...


WANITA JEPANG TETAP KONSISTEN MENJADI IBU, PENDIDIK MANUSIA YANG PERTAMA-TAMA. Oleh: Anni Iwasaki (ditulis 17 April 2004)


"Okikunatara okasan ni naritai"- kalau besar ingin menjadi ibu- jawaban anak-anak Jepang seperti itu, rasanya tidak dimiliki oleh anak-anak perempuan di Indonesia. Apabila datang pertanyaan, "Kalau sudah besar nanti ingin menjadi apa?"


(anak perempuan di Indonesia sudah mulai dibiasakan berbeda, aku dulu aja diajari, kalo mau besar besok jadi apa : jadi doktel...haiya...lingkungan Indonesia telah melupakan peran wanita yang hakiki. Sampai teringat padaku, ketika OSPEK KAMPUS, salah seorang teman satu kelompok : Devi Karulina, menjawab dengan tegas, cita-citamu apa? JADI IBU RUMAH TANGGA. Dan kakak-kakak senior langsung tertawa terbahak-bahak, sambil cari cara untuk "nggarap" anak lugu satu ini. Kalian tahu, Mbak Devi betul-betul jadi perempuan yang pertama menjadi ibu di angkatan kami, sebelum dia lulus kuliah, dan insya Allah ibu yang baik)


Coba kita simak isi surat Kartini “Kami di sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karena kami, oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan-hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama.(4 Oktober 1902 Kepada Tn Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985)


(Tulisan Kartini ini pastinya menohon para perempuan pecinta karir..Kartini yang kita agungkan, ingat jasany dalam perjuangan perempuan, sudah mengajarkan kita untuk : MENJADI IBU sebagai peran utama wanita. Aku ingat, barusan ada anggota legislatif yang memilih bercerai, karena suami tak ijinkan dia bekerja jadi wakil rakya. Kok ya mbelani karir, padahal sudah punya anak tuh...aku juga punya klien yg begitu sulitnya cari jadwal untuk membahas perkembangan anaknya, karena begitu sibuk di kantor, dengan enaknya berkata : saya 'kan nggak bisa ninggalin kantor seenaknya-tapi apa ibu bisa meninggalkan anak ibu seenaknya, kataku dalam hati. Aku juga ingat beberapa hari yang lalu mewawancari seorang pencari kerja. Dalam rangka menelusuri pengelolaan emosi & interaksi sosial aku tanya : Maaf mbak, dengan usia 37 tahun ini, mengapa mbak memutuskan untuk belum menikah? tahu apa jawabnya : dari dulu saya berpikir bahwa saya bisa hidup tanpa laki-laki (pasangan red.), saya bisa mencukupi kebutuhan hidup saya tanpa harus memiliki suami, bahkan saya bisa mencapai karir yang lebih dari laki-laki. Aku cuma bisa tarik nafas panjangggggg, mendengar jawabannya. Inilah sebuah potret realitas di masyarakat, yg mungkin bukan milik wanita bujangan, tapi bisa juga bercokol di kepala para istri yang punya suami, para ibu yang punya anak)


Rilis Kementerian Kesehatan-Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 17 Maret 04 lalu mengungkap 61% ibu muda Jepang keluar dari pekerjaannya menjelang kelahiran anak pertamanya untuk membesarkan buah hatinya. Kebebasan memilih bagi wanita Jepang adalah, profesionalisme. Peran ganda sebagai ibu, terutama ibu anak balita sekaligus wanita pekerja. Dianggap sebagai chuto hanpa-peran tanggung, tidak populer di Jepang. Bagi wanita pekerja Jepang-wanita tidak menikah/menikah tdk melahirkan anak -, bisa mencapai jabatan yang setinggi-tingginya apabila dia sanggup dan mampu. Astronout wanita Asia pertama, adalah wanita Jepang, Dr. Chiaki Mukai. Menlu sekaligus Deputi Perdana Menteri dari negara super economic power, adalah seorang wanita, Yoriko Kawaguchi. Bagi wanita Jepang yang memilih melahirkan anak. Secara ilmiah maupun dalam tradisi Jepang, mitsu no tamashi -masa-masa emas meletakkan pendidikan dasar sejak janin berada dalam kandungan hingga dalam usia tiga tahun pertama anak adalah masa perkembangan pesat otak seorang anak-. Adalah penyebab utama para ibu muda Jepang berpendidikan meninggalkan lapangan kerja melaksanakan ikuji-meletakkan dasar pendidikan karakter&berperilaku sejak dini kepada anak-anaknya.


(Makanya Jepang jadi negara maju. Anak-anaknya berkarakter!ternyata bukan soal makanan mereka saja, seperti berita bahwa orang Jepang menkonsumni protein lebih banyak daripada ras lain. Nutrition is very important, but without stimulation nothing. Nutrisi boleh oke, tapi jika tidak ada stimulasi pendidikan yang tepat, akan percuma....aku sedang melihat sekelilingku...yah...para wanita bekerja yang akhirnya memiliki anak, telah menyerahkan pendidikan anak mereka kepada pembantu, kepada baby sitter, kepada tempat bernama Tempat Penitiapan Anak, kepada ibunya, atau kepada ibu mertuanya. Jadi inget tulisan kemarin, bukankah surga ada di bawah tapak kaki ibu, bukan dibawah kaki nenek, bukan di bawah kaki mertua, bukan di bawah kaki pembantu. Maka aku berikan applaussss panjang untuk sahabat-sahabatku yang memutuskan menjadi ibu di rumah, mengurus anak-nak mereka. berbahahagialah suami mereka, anak-anak mereka dididik oleh ibu profesional. Sungguh saya tidak sedang menohok atau ingin menusuk teman-teman saya yang memutuskan menjadi ibu dengan tetap sambil bekerja, karena saya memahami pula latar belakang dan alasan masing-masing, dan saya paham betul bagaimana keputusan tetap bekerja itu diambil dengan perasaan penuh gejolak, kesedihan, dan juga pengorbanan. Kalian tentu tetap ibu-ibu yang istimewa dengan cara kalian. Tapi andaikan perempuan Indonesia bergerak bersama, kembali ke rumah, mendidik anak-anaknya sendiri, SDM Indonesia yang berkarakter tidak akan menjadi impian saja, bukan?)


Alangkah lebih baik jika para caleg wanita terpilih yang masih tebal naluri keibuannya. Segera menengok pendidikan anak sejak dini oleh ibu pendidikan Jepang dari dalam kawasan huni sewa tempat tinggal mereka. Tanpa mewujudkan cita-cita Kartini, cita-cita seluruh ibu Indonesia menjadi soko guru pendidikan, berapapun anggaran pendidikan akan dinaikkan oleh pemerintah yang akan datang. Dalam sekejap akan segera diketahui hasilnya, adalah kegagalan dan kegagalan lagi disegala bidang.


(makanya tidak heran, indonesia yang kaya raya ini, masih miskin juga...indonesia yang katanya ramah, tapi orangnya banyak korupsi, indonesia ini...murid-muridnya masih nyontek kalo UNAS, fuihhh sedihnya) (Bagi saya, wanita bekerja yang belum memiliki anak, nasihat ibu Anni Iwasaki terasa begitu dalam. Menjadi sebuah perenungan besar, apakah saya bisa mengikuti jejak para wanita Jepang untuk PROFESIONAL-TOTAL menjadi pendidik pertama dan terutama bagi anak-anak saya sendiri kelak? Dan sungguh Islam telah mengajarkan itu. “Yang terbaik diantara para perempuan adalah yang mengasihi, mengasuh anak, supportif dan patuh, dan yang terburuk diantara perempuan adalah yang suka mengenakan perhiasan dan egois, dan masuk surganya tidak lebih mungkin dari seekor gagak putih”. (HR. Bukhari dan Muslim) Allah Ya Robbi, bimbinglah hamba-Mu ini. Amin.

Kenapa Surga Tidak Berada di Pangkuan Ibu?

Surga ada di telapak kaki ibu
Apa artinya?
Mengapa bukan di telapak tangan ibu?
Mengapa bukan di pangkuan ibu?
Di telapak kaki ibu ada surga
Sebagai ibu, mungkin kita merasa
Betapa menjadi penentu jalan ke surga
Karena itu bisa menuntut hak
Bisa menuntut jasa
Sebagai ibu, mungkin kita berkata
Surga ada di telapak kaki ibu anakkku,
Kau tak boleh kasar pada ibu Kau harus hormat pada ibu
Surga hanya untuk anak yang berbakti pada ibu
Kau harus ikuti kata-kata ibu
Itukah maksud Tuhan
Itukah yang Tuhan mau
Itukah yang diajarkan Nabi
Ibu Jejakmu ada dalam diri anakmu
Ada bekas langkahmu pada anakmu P
erjalanan membesarkan anakmu
Sejak detik pertama kehamilan hingga akil baliq
Tidak terhitung pahala dan dosanya
Itulah yang menentukan anak-anakmu ke surga
*ditulis oleh drg. Wismiarti Tamin, Direktur Sekolah Al Falah Jakarta


Tulisan ini dipresentasikan dalam sebuah rapat yang baru saja aku ikuti, sebuah tulisan yang begitu menggetarkan hati...membuatku berderai air mata mengingat perjalanan panjang ibuku dalam membesarkan aku. Siapa yang mengajari kita untuk terbiasa sholat? Siapa yang mengingatkan kita untuk ngaji? Siapa yang cerewet mengingatkan apa yang BOLEH dan TIDAK BOLEH waktu kecil? Siapa yang memberi tahu itu SALAH dan BENAR? Siapa yang mengajari kita kali pertama? Siapa yang membuat fondasi dirimu ketika kecil? Siapa, kalau bukan IBU?


Ingatlah saat masa kecil, dimana kita selalu merepotkan ibu. Ingatlah masa remaja ketika mbandel, membantah ibu. Ingatlah saat-saat ketika sudah merasa besar dan berani mengambil keputusan-keputusan hidup, yang kadang menentang kehendak ibu...Ingatlah saat-saat ketika kau meninggalkan ibumu di masa tuanya. Maka sudah cukupkan penghormatan kita pada semua jasa ibu itu? Tidak, tidak pernah akan cukup, tidak akan pernah bisa dibayar lunas, bahkan sampai akhir hayat.


Kemudian...jika sekarang sudah menjadi ibu, atau akan menjadi ibu. Siapkah kita untuk menempuh perjalanan panjang, menapaki jejak-jejak langkah untuk diikuti oleh anak-anak kita, membangun fondasi untuk anak-anak kita. Setiap kata yang keluar dari lisan kita, itulah yang akan diikuti anak-anak. Setiap bentuk keputusan kita akan menjadi fondasi anak-anak bersikap. Mari kita melihat..Sudahkah kita menjaga lisan di depan anak-anak? Sudahkah kita memberi sikap teladan untuk anak-anak? I


bu...ketika anakmu bayi, dia belajar membedakan mainan, dia belajar membedakan mana mana kotak, mana lingkaran. Tahukah ibu...logika untuk membedakan benda itu yang akan dia pakai untuk membedakan SALAH dan BENAR ketika besar, membedakan BAIK dan BURUK, membedakan HALAL dan HARAM...Apa yang sudah ibu berikan pada anak-anakmu sejak engkau hamil sampai dia besar sekarang? Ibu...setiap kata, setiap sentuhan, setiap sikap, setiap nasihat...itulah yang akan mengantarkan anakmu ke surga, atau juga ke neraka...

Ternyata, APA YANG TERJADI itu TIDAK PENTING

Sebuah hikmah datangnya bisa kapan saja, dan aku tidak menyangka bahwa aku dipertemukan dengan hikmah di atas ketika aku sedang menaiki sepeda motor, duduk di bagian belakang, bertumpu pada punggung suamiku...pada suatu pagi hari, meninggalkan kantor menuju sebuah tempat di jalan kartini, surabaya...sebuah laboratorium medis.Pada waktu itu berbagai macam hal terbayang, bayangan-bayangan tentang apa yang akan aku lalui...bayangan tentang pekerjaan kantor yang aku tinggalkan, bayangan tentang masalah-masalah klienku, ada yang anaknya autis, ada yang trauma memulai hubungan pasca perceraian, ada yang sedang proses sidang cerai, bayangan tentang kejadian kemarin, berkumpul dengan sahabat-sahabatku, ada yang barusan melahirkan, ada yang sudah 3 tahun menikah belum dikarunia anak, ada yang punya anak habis selesai sakit dari opname, cerita-cerita mereka terngiang di kepalaku...
Kemudian tiba-tiba ada tulisan-tulisan tersaji di depan layar komputer di dalam pikiranku, yah..tentang artikel-artikel internet itu...Pemeriksaan Saluran Telur HSG, dan kemudian terbayang bahwa sebentar lagi, kakiku akan dipenthang, alat vitalku akan dibuka, untuk dimasukkan cairan, kemudian seperti sharing orang-orang yang sudah mengalami, akan datang rasa sakit di perut, mules luar biasa seperti orang haid, tapi mungkin lebih dahsyat...pikiran-pikiran negatif datang, haaaa ntar sakit...ntar hasilnya gimana, dan seterusnya...tapi tiba-tiba ada suara hati yang begitu menenangkan, berkata : tenang saja, semua akan baik-baik saja asal kamu tetap yakin pada Allah, yakin bahwa Allah selalu memberi yang terbaik untuk hamba-Nya, semua akan baik-baik saja asalkan imanmu tetap teguh, asal kamu bersabar, asal kamu tetap bersyukur, tidak berhenti berikhtiar, dan tawakkal pada Allah...
Yah...ketenangan itu tiba-tiba saja hadir, bukankah aku sendiri yang mengambil keputusan untuk ini. Dengan tujuan, aku ingin pastikan kondisi organ reproduksi dalam tubuhku, sebagai bentuk ikhtiar untuk keinginan menjadi seorang ibu, ya...ikhtiar kan. Bahwa nanti akan disertai rasa sakit, itu tidak penting...yang penting adalah bagaimana aku menyikapi rasa sakit itu, apakah aku mengeluh, ataukah aku bisa bersabar, bahkan aku bisa bersyukur bahwa ini suatu pertanda bahwa secara medis aku baik-baik saja. Bahwa nanti hasilnya baik atau tidak baik itu penting, yang penting bagaimana aku menyikapinya. Kalo seandainya hasilnya tidak baik, ya bagaimana aku bisa sabar itu yang penting. kalo seandainya hasilnya baik, ya bagaimana aku bersyukur, itu yang penting.
Terdengung di kepalaku suara suamiku di suatu pagi, “yang penting sekarang kita ikhtiar, mencari jalan yang logika masuk akal, dan tentu saja kita harus lebih menata diri masing-masing, jaga sikap, jaga akhlak, Allah nggak akan memberi jika kita tidak siap, jadi mari kita menyiapkan diri sebisa kita”Dan terbayang pula teman, sahabat yang mungkin mengalami hal yang sama denganku, sedang menantikan menjadi ibu di tahun-tahun pernikahan yang sudah berjalan....
TIDAK PENTING jika ternyata memang ada hambatan tubuh kita untuk hamil, yang kista lah, yang gangguan hormon lah, yang saluran terlurnya tersumbat lah, atau tidak penting juga bahwa ternyata kita baik-baik saja tapi belum juga bisa punya anak. YANG PENTING adalah sikap kita ketika menghadapi itu. Sekali lagi, bersabar dan bersyukurMaka terbayang pula masa-masa kesendirian dulu..ketika satu per satu rekan sejawat menikah, ketika satu per satu sahabat menikah...aku juga pernah mengeluhkan, kok nggak ada tanda-tanda yah aku bakal dapet jodoh...hiks...sampai pada suatu pagi, seorang ustad mengingatkan...urus saja anak-anak kita (murid-murid maksudnya) dengan baik, kita bantu anak-anak jadi anak yang berakhlak, insyaAllah..Allah yang akan mengurus kebutuhan kita...maka yg terjadi, aku nggak mikirin jodoh ato nikah, aku kerja dan kerja, waktu luang aku kursus cari ilmu, dan tiba2 ada orang mengajakku menikah..datang tanpa peringatan.
Jadi, TIDAK PENTING kita belum juga menemukan jodoh, sementara teman-teman kita sudah pada menikah dan punya anak...YANG PENTING adalah bagaimana kita menyikapinya, bagaimana kita tetap yakin Allah akan mempertemukan dengan yang terbaik, yakin bahwa Allah tahu kapn waktu yang terbaik, dan bagimana kita mengisi waktu yang diberi Allah ini selagi kita masih sendiri.
Ahhh terbayang juga seorang ibu yang menangisi anaknya yang nafasnya tersedat-sendat ada di sebuah kamar rumah sakit, dengan seorang suami yang terduduk di pojok ruangan...menyesali yang sudah terjadi...sebenarnya TIDAK PENTING anak kita sakit, atau bahkan jika suatu saat anak kita diambil oleh-NYA seperti bayangan tentang sahabat-sahabatku yang harus dikuret...itu TIDAK PENTING...yang penting sekali lagi adalah bagimana menyikapinya, apa kemudian menyalahkan Allah? Naudzubillah....
Tiba-tiba terbayang juga, anak-anak autis..anak2 hiperaktif, anak2 terlambat bicara yang sehari-hari menjadi pergumulanku...bagaimana ya perasaan orangtua mereka? setiap kali sesi konsultasi atau evaluasi terapi, wajah-wajah orangtua yang penuh harap dan penuh cemas, menanti kata-kata yang akan kusampaikan. sebenarnya kan TIDAK BEGITU PENTING apa yang saya sampaikan, yang penting bagaimana mereka bersikap dengan adanya pernyataan saya. Sedih, menyesal, bolehlah...manusiawi, tapi YANG LEBIH PENTING, adalah menerima dengan ikhlas anak-anak kita dengan segala kelebihan dan keterbatasan mereka, atau dengan segala perbedaan mereka dengan anak-anak pada umumnya. dan YANG PENTING adalah sikap kita untuk terus berikhtiar dalam menyembuhkan, atau setidaknya meringankan dan membantu mereka tetap bertahan hidup di masyarakat dengan segala keterbatasan mereka..
Kemudian terbayang pula kasus perceraian yang sedang kutangani..ada seorang istri yang berkonsultasi tentang suaminya yang pemarah, kasar, dan tidak memperhatikan anak-anak...dalam kasus ini, TIDAK PENTING punya suami yang pemarah, YANG PENTING adalah sikap kita, bagaimana mencari solusi itu, bagaimana kita tetep yakin pada Allah bahwa ini adalah ujian, bukannya malah cari pelampiasan dan mencari pelindung laki-laki lain...Atau cerita seorang suami yang bercerita bahwa istrinya tidak menghargai dia, suka membantah, dan tidak peduli dengan anak-anak. Punya istri seperti itu memang stres, tapi STRES itu TIDAK PENTING, yang penting bagaimana kita menyikapinya.
PILIHAN-PILIHAN SIKAP ketika kita menghadapi sesuatu LEBIH PENTING daripada apa yang sedng terjadi. Karena pilihan sikap itulah yang mencerminkan kualitas diri kita, kualitas akhlak kita, kualitas keimana kita...karena sesuangguhnya APA SAJA YANG TERJADI pada kita itu semua hanya UJIAN untuk menjadi orang yang beriman
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?." Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (Q.S. Ali Imran 14-17)

Rabu, 05 Mei 2010

Mengejar Baiti Jannati (3)

Pertama-tama alhamulillah...dengan serangkaian perjuangan (cie....), akhirnya kami bisa menempati rumah baru (cat: rumah second yang kami beli dengan meng-KPR, dengan sedikit polesan, lumayan keliatan baru, hehe...). Betul itu perjuangan, ratusan atau ribuan kilometer jalan kami tempuh untuk mencari rumah tinggal yang cocok, puluhan perumahan & kampung-kampung kami survey, akhirnya memutuskan untuk beli rumah baru, akhirnya dijual lagi meski belum jadi karena tidak sreg (untung ada yang mau beli!), lalu kami menemukan, tepatnya Allah mempertemukan kami dengan rumah, dimana orang yang tinggal disitu betul-betul ingin segera menjualnya...setelah terseok-seok (lebay yang ini..) dalam melakukan renovasi karena terhenti bbrp kali karena KANKER, alias kantong kering..toh selesai juga, meski akhirnya kami perlu mengecat sendiri bagaian-bagian tertentu. Nah yang ini, memori dan insting masa kecilku sedikit berguna, sebab jaman dulu sepulang sekolah sering diajak bapak ke proyek rumah yang dibangun, jadi aku sering liat tukang-tukang bangunan bekerja...
Dan long weekend kemarin jadi waktu yang pas untuk ngurus pindahan. Hari jum'at bersih-bersih, hari sabtu angkut-angkut barang tahap I, hari Ahad angkut-angkut tahap II. Dan tadi malam adalah malam pertama kami menempati rumah itu. Banyak keluarga dari suami ikut mengantar acara pindahan ini, beberapa saudara dari Malang datang juga Bulek-bulek, Sepupu, Adikku, dan Ibu..sayang Bapak nggak bisa...Nah demi menemani anaknya yang menempati rumah barunya, ibuku tiba-tiba memutuskan untuk menginap, tidak ikut pulang ke Malang bersama yang lain...jadilah kami tadi malam bertiga di rumah itu. Dan tentu saja aku memilih menemani ibuku tidur daripada tidur sama suami, hehehe...sebab aku teringat kejadian 6 tahun yang lalu...
6 tahun yang lalu, tanggal 30 Maret sore hari tiba aku dapt telepon : Kris, ibu wis numpak sepur mo nginep dikostmu ya, paling ntar maghrib nyampe...dan betul menjelang adzan maghrib udah dikostku, naik becak dari stasiun kereta api Gubeng. Waktu terima telepon, yang jelas satu pikiranku : rencana buyar...pada malam itu, rencananya ada pergi2, makan2 karena itu hari ultahku. Ibu uda telepon dari hari sebelumnya, tanya mau pulang apa nggak pas ultah, soalnya kalo pulang ibu mau masak2 spesial, dan kubilang nggak bisa pulang banyak kegiatan (padahal aku memang lebih ingin menghabiskan waktu tidak dengan keluarga) huhhhhh....
Akhirnya malam itu, ibu minta diajak ke rumah makan yang enak, trus makan2 deh bertiga sama adekku juga...Aku tanya sama ibu: kenapa sie, jauh2 dari Malang, sendirian (karena Bapak kerja di luar kota), datang kesini? Ibu cuma bilang : yah, ibu pengen ketemu anak aja, kalo kamu nggak bisa pulang, ya ibu aja yang kesini...akhirnya malam hari juga nggak ngobrol banyak2, tidur bareng gtu aja...buat aku biasa kali, tapi buat ibu yang suaaayangggg sama anaknya, spesial kali ya...aku sadar, harusnya waktu ibu nanya, nggak pulang tha? itu artinya ibu ingin aku pulang, dan seharusnya aku pulang!
Yang jelas, aku terharu...aku jadi ingat, sejak usia 18 tahun (10 tahun yang lalu) aku putuskan untuk keluar dari rumah..kuliah di Surabaya, bekerja di Surabaya, dan berumahtangga di Surabaya. Maka sejak usia 18 tahun itu, waktuku untuk 'mengabdi' pada orangtua sangat sedikit, hanya dengan telepon2, dan ketika pulang ke Malang untuk menyenangkan hati mereka...10 tahun terakhir, dimana aku ketika ibuku pulang kerja dan badannya pegal, ketika dulu aku masih pijat2 ibu, dimana ketika ibu sakit flu berhari-hari, dimana aku ketika bbrp hr yg lalu bapakku sakit panas sampe 3 hari lebih, dimana aku ketika ibu terserang sakit kepala vertigo sampe untuk ruku' n sujud peningnya minta ampun...yah, aku sedang sibuk dg kehidupanku sendiri..Maafkan aku, Bu...dan tadi malam ibuku bilang pengen nginap semalem aja...mungkin maksudnya untuk nyenengin anaknya, nemenin anaknya di hari pertama menempati rumah baru...terus kapan aku menyenngkan orangtua?
Bu,... Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan T
ak mampu ku membalas...ibu...ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
(Ibu by Iwan Fals, satu lagu favoritku)
NB : Wahai sobat semua inilah alamat baruku
Perum Taman Suko Asri II Blok O No. 14A RT 33 RW 08,
Desa Suko Kec. Sukodono Sidoarjo

Senin, 26 Oktober 2009

Menata Ulang Niat Bekerja

Pada hari Senin ini, dimana orang-orang biasa mulai bekerja setelah jeda libur 1 atau 2 hari, aku ingin berbagi tentang sebuah tuntunan. Aku baca dari buku "The Ultimate Psychology. Psikologi Sempurna Ala Nabi Saw" buah karya Muhammad Ustman Najati.
Suatu hari, Rasulullah dusuk bersama para saharabatnya. Lantas mereka melihat ada seorang pemuda yang sangat kuat pergi dari rumahnya pagi-pagi sekali untuk bekerja. Maka orang-orang berkata, Celakalah pemuda ini. Andai saja masa muda dan kekuatannya dipergunakan di jalan Allah". Maka Rasulullah bersabda, "Jika ia keluar untuk anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar bekerja bagi kedua orangtuanya yang telah lanjut usia, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk dirinya agar tidak meminta-minta, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk keluarganya, maka ia berada di jalan Allah. Namun jika ia bekerja untuk membanggakan diri dan untuk tujuan menimbun harta, maka ia berada di jalan Thagut. HR Ath-Thabrani, kualitas sanadnya dhaif.

Meskipun ini adalah hadits kualitas lemah, para ulama bersepakat bahwa hal ini masih bisa diamalkan. Maka hari ini pun aku bertanya lagi pada diriku sendiri : untuk apa aku berangkat pagi-pagi bekerja. Aku masih ingat ketika selesai kuliah, aku bertekad : aku harus bekerja, segera, dengan bekal ijazah S1 ini, sebab aku ingin mandiri secara finansial, setelah menggantungkan 22 tahun hidupku pada orangtua. Niat ini kembali direvisi pasca-pernikahan. Teringat jelas patron dari suami : jangan sekali-kali meniatkan bekerja untuk mencari uang, karena mencari nafkah itu tugas suami. Ketika berkangkat bekerja, berniatlah untuk mengamalkan ilmu agar bermanfaat buat orang banyak, mengembangkan dirimu, menambah ilmu agar barokah. Insya Allah, aku selalu berusaha teguh memegang niat ini. Mudah-mudahan Allah selalu melindungi. Amin.
Nah, waktu aku membaca hadits ini, termenunglah diriku...Pernahkan aku bekerja dengan niat berbangga diri. Ungkapan : aku gitu lho! Astagfirullah...Sebagaimana sifat hati yang mudah terbolak-balik, kusadari ternyata pernah juga aku berbangga diri, dan ini jalan THAGUT! Astagfirullah...Ya Allah bimbinglah hamba-Mu ini di jalan yang lurus.Amin

Senin, 12 Oktober 2009

Hubbul Iman (tertulis setahun yang lalu)

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman sesama ibu rumah tangga. Saya menyatakan bahwa pernikahan itu sungguh adalah sebuah tanda kebesaran ALLAH…begitu banyak kejadian yang merupakan karunia datang setelah kita menikah…Ketika dahulu masih sendiri, mungkin ada teman-teman dekat dan keluarga yang begitu memperhatikan kita, tetapi pasangan hidup kita adalah seseorang (yang mulanya orang lain) kemudian menjadi begitu perhatian dan mencurahkan segala yang dia miliki untuk kebaikan pasangannya. Tidakkah itu suatu tanda kebesaranNYA?

Betapa indahnya ketika menghayati bahwa dengan menikah itu adalah sebuah kesempatan untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta. Betapa tidak? Ketika keindahan, kebahagiaan yang dirasakan maka kepada siapa kita ingat untuk bersyukur? Tentu kepada Allah SWT yang telah menjadi penyebab ini semua mungkin terjadi. Ketika masalah-masalah ringan, masalah-masalah besar mulai datang, maka kepada siapa kita akan mengadu kalau tidak kepada Allah..sebab mengadu pada sesama manusia hanya akan menambah malu dan sekaligus menambah dosa. Oleh sebab itu, ketika waktu bergulir dalam kehidupan pernikahan dengan segala dinamikanya maka tiada lain itulah datangnya kesempatan untuk semakin mendekat pada-NYA…

Maka teringatlah sebuah nasihat dari sahabat lamaku : Wahai para wanita, jika dulu bakti pertamamu pada sesama manusia (setelah ketaatan pada Allah tentunya) adalah kepada kedua orangtuamu, maka sejak engkau menikah, bakti pertamamu adalah kepada suamimu. Dan tahukah enagkau, ketaatan seorang istri pada suaminya adalah salah satu jalan menuju surga Allah…Subhanallah…

Berbakti pada orangtua pastilah dilandasi dengan cinta, begitu pula taat pada suami pastilah dilandasi cinta. Tapi tentunya, cinta kepada orangtua berbeda dengan cinta kepada suami.
Orangtua adalah seseorang yang kita kenal sejak masih kecil, yang sepanjang hidup, kita rasakan jasa-jasanya, segala kebaikannya dalam melimpahkan kasih sayangnya pada kita, yang darahnya mengalir di dalam darah kita. Maka, mencintai dan kemudian berbakti pada orangtua bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan…Seolah-olah sudah menjadi respon alamiah dalam jiwa kita untuk membahagiakan mereka. Sahabatku bilang, dalam kajian Islam ini disebut HUBBUL FITRIYAH, cinta yang berasal dari fitrah manusia.

Suami, pada mulanya adalah orang lain, yang mungkin baru kita kenal menjelang menikah. Dimana sebagian besar gambaran dirinya yang asli baru kita ketahui setelah menikah…Dan bahkan, dengan latar belakang yang berbeda kemudian perbedaan selalu muncul dalam keseharian sehingga yang muncul adalah gesekan-gesekan. Lalu bagaimana caranya melakukan ketaatan pada sosok suami dengan kondisi demikian. Sungguh, hanya bekal iman kepada ALLAH yang akan memudahkan proses itu. Keyakinan bahwa pasangan hidup kita, yang telah mulai dengan sebuah perjanjian akad nikah di depan ALLAH, adalah sosok terbaik yang dipilih oleh ALLAH untuk kita. Keyakinan bahwa dengan berbuat baik terhadap istri adalah amanah dari ALLAH yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat. Keyakinan bahwa ketaatan pada suami adalah bentuk ibadah mulia, yang akan mengantar para wanita menuju surga.

Dengan adanya hati yang mudah terbolak-balik dan iman yang biasa naik turun, cinta pada pasangan juga bisa mengalami pasang surut. Jikalau iman kita pada ALLAH sedang baik, insya Allah ketaatan kepada suami akan menjadi sesuatu yang mudah, cinta kepada istri menjadi sesuatu yang indah. Tetapi jikalau iman kita pada ALLAH sedang turun, maka ketaatan itu menjadi sesuatu yang sulit..cinta kepada istri menjadi suatu beban…Sahabatku bilang, cinta pada suami ini disebut HUBBUL IMAN, cinta yang dilandasi dengan iman kepada ALLAH.

Oleh karena itu, setiap kali teringat kita perlu panjatkan doa agar keimanan kita bisa meningkat, tidak sampai turun, agar kita bisa pertahankan cinta kita pada pasangan hidup kita hingga di akhir hayat…seraya terus bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan ALLAH, serta bersabar atas setiap masalah yang datang…sebab masalah-masalah itulah yang menguji keimanan kita, sehingga ketika kita bisa melampauinya maka derajat keimananan kita akan meningkat juga…Amin..Allahuma Amin.

Senin, 07 September 2009

Mengejar Baiti Jannati (2)

Memilih rumah telah diputuskan, maka sekarang adalah tahapan untuk melakukan pembayarannya. Andaikan saja, punya cukup uang..untuk kepraktisan, tentunya sebagian besar orang akan lebih suka membeli apapun dengan cara TUNAI. Namun jika perlu bantuan dalam bentuk pinjaman, tentunya butuh persiapan lain. Umumnya, pinjaman besar untuk membeli rumah ini dilayani oleh bank, maka kami pun memutuskan cara yang sama. Buat siapa saja yang akan dan sedang mencari rumah, mudah-mudahan tulisan ini dapat bermanfaat sebagai pertimbangan. Memang benar pengalaman itu adalah pelajaran berharga, pengalaman yang melahirkan tips-tips ini...TIPS LANCAR MENGURUS KPR :
  • Pertimbangkan Bank yang Dipilih. Yang jelas dikotominya, silakan pilih antara bank konvensional atau bank syariah, jelas keduanya beda. Produk KPR pada perbankan konvensional difahami sebagai Kredit Perumahan Rakyat yang akadnya didasarkan pada prinsip pinjam-meminjam dengan memanfaatkan bunga sebagai variabelnya. Pihak bank mengucurkan pinjaman bagi nasabah yang dimanfaatkan untuk keperluan KPR. Bank konven-sional mengambil keuntungan (profit) dari bunga pinjaman yang dikenakan kepada nasabah. Bank konvensional menetapkan bunga untuk setiap cicilan yang harus dibayar. Bunga yang dipraktekkan oleh perbankan konvensional merupakan riba yang ada dalam ajaran Islam, yaitu bagian dari riba nasi’ah. Sedangkan KPR yang dikembangkan oleh bank syariah dimaknai sebagai Ke-pemilikan Perumahan Rakyat yang mekanismenya didasarkan pada akad jual-beli (tabadduli). Dalam hal ini, bank syariah sebagai pihak penjual yang menjual produk KPR kepada nasabah. Sedang nasabah sebagai pihak pembeli. Karena prinsip yang digunakan dalam model ini adalah jual-beli, maka kelaziman pada akad jual-beli memungkinkan adanya proses tawar menawar antara pihak bank dengan nasabah. Keuntungan bank syariah pada produk KPR ini dalam bentuk margin penjualan yang dikenakan kepada pihak nasabah. Tingkat margin yang ditetapkan oleh bank syariah menjadi obyek pembeda yang memungkinkan antar bank syariah melakukan kompetisi dalam menentukan tingkat margin-nya. Bisa jadi, satu bank syariah mengambil margin keuntungannya lebih rendah dibanding dengan tingkat margin yang ada pada bank syariah lainnya, atau jika memungkinkan bisa kompetitif dengan tingkat bunga yang ditetapkan oleh perbankan konvensional. Biasanya, bank syariah dalam menjual produk KPR-nya menggunakan fasilitas pembiayaan murabahah yang memungkinkan nasabah untuk membayar KPR-nya secara angsuran. Di sini, ada unsur ta’awun (tolong-menolong) antara pihak bank syariah dengan nasabah. Nasabah tertolong oleh pihak bank syariah karena diberi keleluasaan membayar dengan melalui angsuran (cicilan). Sedang pihak bank tertolong dengan mendapatkan keuntungan (margin) dari penjualan KPR. Anda ingin tahu kami memilih apa? Kami ingin memenuhi tuntunan syariah Islam, jadi kami memilih Bank Syariah, yaitu Bank Muamalat Indonesia. Subhanalllah, ternyata juga mendapatkan keuntuangan finansial juga. Darimana itu, lihatlah tabel berikut :

  • Bangun Komunikasi Terbuka antara Penjual dan Pembeli. Kalau Anda sedang berurusan dengan Developer perumahan, maka bangunlah komunikasi yang baik dengan tim marketing maupun orang-orang dikantornya agar Anda dapat kemudahan dalam mengurus semuanya (Oiya, jangan lupa cek ke kantor REI-Real Estate Indonesia terdekat untuk tahu apakah developer ini legal atau ilegal, daripada Anda ditipu). Kalau Anda membeli rumah second, seperti yang kami lakukan, maka bangunlah komunikasi yang baik dengan pihak penjual. Urusan antara penjual-pembeli cukup rumit. Pertama, keterbukaan masing-masing pihak, baik penjual (dalam menjelaskan kondisi rumah sesungguhnya) maupun pembeli (mengenai kesanggupan pembayaran, dll). Kedua, tawar-menawar harga yang membutuhkan hubungan silarurahmi yang baik agar tercipta keikhlasan masing-masing pihak, sebisa mungkin dua-duanya sama-sama merasa untung. Ketiga, kesediaan masing-masing pihak untuk mengurus segala dokumen yang diperlukan, tentunya membutuhkan komitmen untuk meluangkan waktu untuk mempersiapkan dan mengeluarkan biaya-biaya. Keempat, tawar-menawar masalah peralihan rumah.
  • Siapkan Semua Dokumen Selengkap-lengkapnya. ini adalah bagian penting dari proses jual beli. Pengalaman kami sungguh menjadi pelajaran betapa pentingnya dokumen, karena hanya karena selembar kertas, segala urusan bisa tertunda. Baik, inilah sejumlah dokumen yang harus disiapkan : KTP Suami-Istri, Kartu Keluarga, Akta Nikah, Slip Gaji, Surat Keterangan Bekerja, Kartu NPWP-hayooo yang belum punya harus ngurus lhooo, Print-out rekening tabungan. Ingat pastikan, semua dokumen tersebut harus dalam keadaan hidup, hehehe masalah yang pernah jadi batu sandungan kami adalah kondisi KTP suami yang sudah habis masa berlakunya, yang baru kita ketahui menjelang realisasi KPR..musibah...akhirnya realisasi menunggu jadinya KTP yang baru. Nah kalau yang dibeli rumah second, maka semakin banyak persiapan dokumen, yaitu dokumen pihak penjual : KTP Suami-Istri, Kartu Keluarga, Akta Nikah, Kartu NPWP, Surat AKTA TANAH, SURAT IMB, dan SURAT PAJAK-bukti setoran & SPPTnya. Kok ya ini jadi pengalaman buat kami, Allah sedang menguji kesabaran mungkin. Pihak penjual ternyata belum punya Kartu NPWP, maka demi kelancaran...kami menawarkan diri untuk mengurusnya, bolak-balik ke Kantor Pajak. Ternyata juga, khusus rumah ini (dan beberapa rumah di kawasan RT tersebut) tidak terbit SPPT-nya, yang salah Kantor Pajak nggak ngeluarin SPPT-karena databasenya salah mungkin, malah kita warga negara yang TAAT PAJAK ini dibikin repot, sehingga pihak penjual harus mengurus dari RT-RW-Kelurahan-Kecamatan-Kantor Pajak. Wuihhh.
  • Siapkan Dana Cukup, so pastilah...Dari harga rumah yang telah disepakati, maka siapkan dana paling tidak 10% dari harga rumah tersebut untuk keperluan biaya-biaya. Lho, apa saja kok banyak ya? Pertama, untuk biaya administrasi bank, yaitu untuk keperluan survey rumah, administrasi KPR, asuransi kebakaran, asuransi jiwa, dll. Kedua, untuk biaya notaris, yaitu pemeriksaan dokumen di Badan Pertanahan, Pembuatan Akta Jual Beli, Pembuatan Akta Balik Nama, Pengurusan Pajak, dll. Ketiga, untuk biaya pajak. Nah loe...segala transaksi di negara ini menimbulkan pajak demi pemasukan bagi negara. Khusus untuk jual beli rumah, Pihak Penjual dikenai Pajak Penghasilan atas penjualan rumah tersebut, dan Pihak Pembeli dikenal Pajak Pengalihan Pemilikan Tanah. Jangan lupakan juga pengeluaran kecil-kecil semacam ini : beli materai untuk ini- itu, telepon untuk koordinasi-pasti membengkak lho!, fotokopi macem2 dokumen, transportasi ngurus ke sana-sini, hiks..capeknya...demi sebuah rumah nie...
  • Banyaklah Bertanya. Nah ini die, tips oke banget. Bingung itu bikin STRES, tahu belakangan sehingga merusak rencana dan rancangan yang sudah dibuat itu BETE. Maka kumpulkan informasi sebanyak-benyaknya sebelum mengambil keputusan apapun. Surfing di internet bisa membantu tapi bertanya pada orang yang sudah mengalami rasanya lebih sreg! Hal ini tentunya semata-mata memenuhi unsur penting dalam prinsip mengambil keputusan : KUMPULKAN DATA SEBELUM WAKTU PENGAMBILAN KEPUTUSAN.
  • Berdo'a. Jika rumah itu menjadi rejeki Anda, Allah yang akan memudahkannya. Jika rumah itu bukan rejeki Anda, akan ada saja kesulitannya. Jika rumah itu rejeki Anda, tapi jalannya kok ya begitu sulit, itu tands Allah menyayangi Anda dan sekedar ingin menguji kesabaran Anda sebelum memberikan yang diinginkan. Indah, bukan...makanya selama proses ini berlangsung banyak berdo'a, agar keberkahan Allah selalu menyertai...

Selasa, 18 Agustus 2009

Marhaban Ya Ramadhan


Siapa yang tidak gembira jika pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup? Siapa yang mau menolak pahala dilipatgandakan? Tentu kita semua bahagia menyambut datangnya bulan mulia. Ramadhan mubarok. Selamat menunaikan ibadah Ramadhan 1430 H
Eko Ariyanto dan keluarga.

Selasa, 28 Juli 2009

Mengejar Baiti Jannati (1)

Dalam satu bulan terakhir ini, suamiku dan aku berkeliling ke penjuru Surabaya dan Sidoarjo untuk mencari rumah. Entah malaikat apa yang membisikkan wangsit ini pada suamiku, yang dengan begitu semangatnya : ayo, cari rumah. Masih teringat setahun yang lalu kami melakukan hal serupa, namun akhirnya rumah yang sudah dipesan ke sebuah developer dan sudah 80% jadi itu DIJUAL.

Perjalanan mencari rumah menjadi sarana untuk menguji kebersamaan suami-isteri. Pertama soal waktu, kami sama-sama bekerja sehingga sisa waktu luang tidak cukup banyak. Selain itu, di rumah masih mananti pekerjaan rumah tangga, di kampung ada amanah, di masjid ada amanah, di hari libur ada saja pihak yang membutuhkan waktu, ya saudara ya teman. Jadi, masing-masing harus mengelola waktu dengan baik. Kedua soal perbedaan pendapat, namanya juga dua orang berbeda, memilih rumah yang pertimbangannya beda, akhirnya berselisih pendapat juga, yang begini cukup menguras energi. Tapi, komitmen sedang kuat, bukan sekedar untuk ’aset kekayaan’ tetapi membeli rumah artinya membeli sebuah ’kesempatan untuk menjadi dewasa’. Dengan membeli rumah, kami bisa ’membeli’ sebuah proses untuk mengambil keputusan sekaligus ’membeli’ kesempatan untuk berlatih menyelesaikan masalah secara mandiri.

Nah, ketika berkeliling mencari rumah itulah banyak hal yang kami pelajari, fuihhhh. Anda ingin tahu, apa pertimbangan kami dalam memilih rumah
  1. HARGA..tentu saja rumah yang dibeli harus sesuai dengan kemampuan finansial kami. Begitu dapat bagus tapi mahal, ya minggu dulu dong....Kalau dapat yang sesuai kemampuan kami, barulah ditelusuri pertimbangan berikutnya.
  2. LOKASI...Beberapa teman kami memilih lokasi yang cukup jauh dari tempat kerja, dan sungguh kami sering merasa iba pada mereka. Jam berapa mereka berangkat, betapa panjang jalan yang harus dilalui, betapa banyak waktu yang dihabiskan di jalan, betapa lelah selama di jalan, dst...Maka, setiap kali akan melakukan survey calon rumah, kami selalu menghitung jarak dan waktu tempuh (termasuk mencatat tingkat kemacetan jalan, deket tapi jalannya macet ya percuma dong!)
  3. LUAS TANAH DAN BANGUNAN...Hehe, seneng dong punya rumah yang luas, tapi yang luas pastinya mahal...Nggak perlu luas, asal cukup aja..Maka setiap kami punya data baru soal rumah, kami selalu melihat ukurannya berapa? Suamiku sudah berangan-angan bahwa di rumah kami ada ruang tamu yang cukup, sebab beberapa kali kami sebagai tamu pernah merasa risih jika bertamu di ruang sempit. Jadi kami akan berusaha untuk memberi kenyamanan pada tamu-tamu kami. Kami ingin punya kamar yang cukup, untuk keluarga, anak-anak, atau orang yang menginap. Kami ingin punya musholla di rumah. Dan kami juga ingin meluangkan sejumlah ruang untuk digunakan berwirausaha (Lha kok banyak syaratnya, ini yang bikin susah cari rumah!).
  4. STATUS TANAH...Ini dia juga penting, yang paling aman cari yang sudah SHM (Sertifikat Hak Milik) tinggal satu langkah..Balik Nama di Notaris. Nah kalo HGB (Hak Guna Bangunan), masih jadi opsi lumayan karena dua jenis sertifikat inilah yang layak untuk dijadikan jaminan KPR di Bank. Jangan sampai yang PETOK-D, susah n rumit nanti urusannya, apalagi yang model SURAT IJO, sama sulitnya...
  5. FAKTOR LAIN-LAIN...ini juga mendukung kita dalam mengambil keputusan. Misalnya lingkungan bebas banjir apa enggak-ini penting lho! surabaya kan rawan banjir, lingkungannya nyaman tidak untuk bertetangga (hayo...enak di kampung apa di perumahan?), ada masjid dengan aktivitas ibadahnya, ada jalur angkutan umumnya, ada fasilitas umum untuk anak, sekolah, pasar, toko, dan lain-lain.

Dengan pertimbangan itu, ya pantes lah kalau sulit cari rumah yang cocok. Sudah cocok sama harganya..eh, lokasinya jauh banget, sudah gitu rumahnya rungsep lagi. Udah cocok harga, lokasi, bentuk rumah, eh...di perkampuangan yang sepertinya kurang nyaman. Sudah cocok sama semunya, eh..karena nggak cepet-cepet di-booking, jadi sudah laku...keduluan dibeli orang lain...sedihnya...Sampai pada suatu titik : Ya Allah, jika sebuah rumah adalah rezeki kami, mudahkanlah untuk menemukannya. Subhanallah, akhirnya kok ya ada yang cocok...harga lumayan, murah nggak, mahal banget nggak juga, cukup dengan prediksi dana yang kita miliki dan kemampuan mng-KPR Bank dalam 10 tahun ke depan. Lokasi, Luas tanah, Status tanah oke...Maka ini saatnya mengambil keputusan, sebelum diambil orang lain. Bismillah...

Rabu, 22 Juli 2009

Pandai dan Sukses


Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahawa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Tirmidzi, ia berkata, ‘Hadith ini adalah hadith hasan’)
Rasulullah mengajarkan, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’ Pengajaran sederhana tentang pandangan hidup yang Rasulullah inginkan untuk dimiliki umatnya.
Seorang muslim tidak berwawasan sempit dan terbatas pada pemenuhan keinginan jangka waktu sesaat. Seorang muslim memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang kekal abadi. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, beramal untuk kehidupan yang abadi. Pandai melihat diri demi peningkatan keperibadiannya. Begitu Rasulullah menjelaskan.
Rasulullah saw, juga memberitahukan bahwa ‘orang yang lemah’, yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tak bertujuan, tak punya arah, tidak ada amalan nyata, dan tak pernah memuhasabahi perjalanan hidupnya.
Orang yang lemah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ‘berangan-angan terhadap Allah .’ Sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, : Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah , bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Umar r.a. mengemukakan: ‘Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan bersiaplah kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (muhasabah) dirinya di dunia.
Maimun bin Mihran r.a. mengatakan: ‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.
Kelak pada hari akhir setiap diri akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. 19 : 95 ].
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki Ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya dari mana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah ra, bahawa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang muflis itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang muflis diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang muflis dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) solat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)

Sumber : http://diarymutiara.hadithuna.com/

Minggu, 14 Juni 2009


ImageChef.com Poetry Blender

From The Ahmad Fauzi's Note

Aku hanya punya satu ibu. tentunya begitu. Ibu bukan sosok yang pintar berpendidikan layaknya ibu kebanyakan teman-temanku. Bahkan SR (sekolah rakyatpun= jaman sekarang disebut SD) beliau tak mencicipinya. Tetapi beliau bagiku sosok besar yang sangat pandai memasak. Masakan-masakan yang tak pernah kucicipi di tanah Jawa ini. Beliau wanita hebat yang bisa memberiku kesempatan untuk kuliah tatkala ayahku tiada. Dan beliau, wanita satu-satunya yang bisa membuatku menangis dengan tangisan yang tak pernah aku lakukan. Aku menangis deras dan tak tertahankan kala kain kafan itu dikenakan di tubuh kurus (akibat sakit yang panjang). aduh mataku mulai berkaca-kaca lagi.
Ibu adalah wanita satu-satunya yang dicintai ayahku. Kala begitu banyak wanita yang sangat menyukai ayahku. Bahkan ada wanita yang datang dengan mengancam akan bunuh diri kala mereka hendak menikah. Tetapi ayahku tak bergeming. Cintanya hanya untuk wanita sederhana dan pemalu itu.
Ibu adalah kebalikan sifat ayahku. Jika ayah api, ibu adalah airnya. Jika ayah penuh dengan visi maka ibu sangatlah sederhana. Jika ayah marah dan hendak memukulku maka ibulah pembelaku. Saudara-saudaraku bilang aku adalah anak yang paling dilindungi ibu. Anak laki-laki tersayangnya. Seberapapun aku sangat nakal dimasa kecil. Betapapun mungkin dulu aku sering berkata yang tak pantas. Ayah dulu sering bilang aku adalah anak pintar dan sang juara. Ibu tidak pernah bilang begitu, dia hanya mengangkatku dari tempat tidur dan mengusap wajahku dengan lap basah agar aku bersemangat bersekolah.
Dibanding saudara yang lain, akulah yang paling sering ditanya mau makan apa hari ini. Maka berangkatlah ia ke pasar untuk memenuhi apa yang kuinginkan. Aku hanya sempat bercakap-cakap langsung dengannya Ramadhan lalu. Beliau sudah kehilangan begitu banyak kemampuan ingatannya. Stroke yang menyerang dari 2002 menjadi penyebabnya. Dan kemudian serangan kedua terjadi lagi beberapa tahun kemudian. Bila berjalan beliau terseok-seok karena kakinya membengkok. Tangan kanannya pun berkondisi yang sama. Rupanya cinta dan rindunya pada almarhum ayahanda menjadi pemikirannya siang dan malam. Dilemanya oleh kelakuan anak-anaknya yang ia usaha bendung dengan sekuat hati dan tenaganya.
Ibu, apalagi yang harus kutulis untuk menggambarkan betapa engkau adalah karunia Allah terbesar bagi kami. Di tengah kepikunannya pun dia masih bisa mengingat aku. Anak yang jauh di rantau. Yang pulang hanya 2 kali setahun. Itupun hanya barang satu atau dua minggu. Kala mendengar aku akan balik ke jawa. Dengan langkah terseoknya dia akan membuka isi lemarinya lalu membawakan beberapa pakaian dan menyuruhku membawanya. Aku sering kali menolaknya. lalu dengan senyum lucunya ia menyerahkan uang tak seberapa itu (yang mungkin diberikan saudara yang menjenguknya). Ia meminta aku membawa uang itu. Aku pun menolaknya. Aku bilang itu untuk ibu saja. sekali lagi dengan senyum lucunya dia bilang, "Ini buat ibu???..... terimakasih, ya." ahhhh dia lupa barusan saja dia hendak memberikan uang itu untukku dan sekarang dia mengingat seakan aku memberikan uang itu untuknya. Ibu... ibu.....
Maka episode haru itu dimulai hari minggu ini. Kala aku ditelepon aku kakak yang memintaku untuk bicara pada ibu. Hari itu ibu mendadak lumpuh total. Tak satupun kata yang mampu diucapkannya. Bila bernafas tampak sangat kesakitan. Kadang sadar kadang tidak. maka aku berbicara dan berbicara entah apa saja yang aku katakan. Semua tanpa aku tahu apakah beliau mendengar atau tidak. Aku terus bercerita di telepon sampai aku terkaget ketika masuk sms dari kakak bahwa ibu sudah tertidur.Lalu datanglah telepon kamis sore ini. Telepon yang mengagetkan.
Akhirnya aku tiba pada fase ini........................ mengajarkan ibu untuk mengucapkan kalimat LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMAD RASULULLAH. Aku harus terbang ke Denpasar. Teman-teman sekantor sangat membantuku untuk itu. Mencarikan dan memberiku hutangan untuk melunasi tiket pesawat yang nilainya hampir 2 juta itu. Terimakasih Pak Zaenal, Bu Nopia, Bu Yani dan Bu ilmi. Aku baru tiba di bandara ketika sms itu masuk. Dari kakak. isinya, "Asslkm. Jik kapan sampai di rumah, ibu sudah gak ada. from kakcah, 7:57pm 11/6/09
Tiba dirumah, semua saudara kakak dan adik memelukku erat. Ibu sudah berbaring. kurus sekali. Tapi sungguh sejak ibu sakit aku tidak pernah melihat wajahnya sesegar ini. Kata kakak, ibu pergi setelah mendengar aku akan terbang ke Bali. Tampaknya tuntas keinginannya semua anak-anak berkumpul. Ibu dimakamkan Hari jumat, 12 juni 2009 usai shalat jumat. makamnya bersebelahan dengan makam ayah. Disanalah tempat akhirnya ia beristirahat. Tak jauh dari kekasih tercintanya.
Ayah dan ibu, Doa kami akan selalu menyertaimu.

Syukur


ImageChef.com Poetry Blender

Kamis, 11 Juni 2009

KOMITMEN SEORANG MANUSIA PEMBELAJAR

Aku adalah pembelajar di “Universitas Besar Kehidupan” dimana aku berdiri sendiri berhadap-hadapan dengan Tuhanku : Allah Yang Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu, lalu merenungi hakikat penciptaanku di sana, aku akan melakukan ziarah, perjalanan ke dalam jiwaku

Aku adalah pembelajar di “Universitas Besar Kehidupan” dimana aku belajar untuk menerima tanggung jawab dengan pertama-tama berusaha menjadi diriku sendiri, dan bukan yang lain, serta menolak ditentukan, didikte, dipaksa oleh yang bukan “diriku” siapapun atau apapun itu

Lalu aku bertanya : Siapakah dan apakah aku ini? Darimana aku berasal dan kemanakah aku akan pergi? Apakah yang mampu dan harus aku lakukan? Apakah yang akan aku tinggalkan di dunia ini? Dan, kepada siapa aku harus percaya kalau bukan kepada-Nya?

Lalu aku berjanji : Aku akan mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu dengan mencari pengetahuan diri sepenuh hasrat dengan merancang bangunan kehidupanku sendiri, dengan keberanian menyatakan perbedaan, dan merayakannya dengan mengatasi ketidakmampuan belajar dengan menjadi lebih manusiawi lalu setia sampai mati, yaitu suatu saat terindah dimana aku akan mengakhiri legenda pribadiku dan berjumpa dengan-Nya
(dipetik dari sebuah buku "Menjadi Manusia Pembelajar" karya Andrias Harefa)

Rabu, 10 Juni 2009

Adolescent Stress Management and Family Education : A Proposed Research


The years of adolescence are characterized by dramatic physical, cognitive, social, and emotional change initiated by the onset of puberty. The changes are associated with transformation in family relationship, peer relationship, and with the emergence and escalation of conflict between adolescent and their peers, and between adolescent and their parents. The changes impact adolescent’s conceptions and feeling about themselves and their relationship with others.


Previous researches stated that parent-adolescent conflicts increase during the middle of school years and involves the everyday activities in family. The other researches also stated that adolescent are strongly influenced by peers. These two environments are great stressors for adolescent. As the consequence, adolescent have to improve their stress management skills. Family and peers environment can be a stressor situation and also a chance for adolescent to learn stress management skills. The author believes that family environment has more impact on adolescent.


In other side, developmental tasks are common pattern to find ideal condition of human life in stages. The tasks have a role as guidance about what are supposed to do to conform in the society. In other words, developmental tasks can be a comparing standard to evaluate adolescent quality of psychological life.


This research will examine the pattern stress management skills of adolescent and their family education background. Specifically, this research will explore characteristic of adolescent family education background that build the adolescent stress management skills. As a comparing, this research will find the correlation between those two aspects with finishing developmental tasks in adolescence.


This research will be done as quantitative-qualitative study that examines adolescent stress management skills from some several family backgrounds. There will be some tools to collect the data such as structured interview, structured observation, measurement scales, and standardized inventory. This research will use multi-methods to analyze the data.
The author hopes this research will give a great contribution on to discipline of educational psychology in terms of importance family education aspect in adolescent maturity. The author also hopes that this research can be held in Indonesia because of the relevant improving researches and discourses about education in this country.


The author has explored the concept of stress management skills through some researches at graduate school. This research will be an opportunity to improve expertise in this topic. The author’s profession as a school counselor supports to explore the dynamic of education process, especially adolescent. The author realized that education system in Indonesia is left behind the other countries. It makes Indonesia has low quality of human resources that gives the impact to slow down the progress in Indonesia development. The research really concern of the education in Indonesia, hopefully this effort is a significance to be applied in Indonesia.

Meluruskan Niat dalam Sertifikasi Guru

“Pokoknya dapat sertifikat!”, teriak sekelompok guru dalam sebuah kegiatan seminar. Kalimat ini terlontar ketika beberapa hari yang lalu, sekolah kami menyelenggarakan Olimpiade Matematika Tingkat SMP se-Jawa Timur yang diikuti oleh lebih dari 700 regu dan kegiatan pendamping berupa seminar bertemakan Strategi Membina Tim Olimpiade yang diikuti lebih dari 300 guru. Fenomena kegiatan seminar-seminar untuk guru yang pesertanya membludak sedang marak sebab mereka mengejar perolehan sertifikat demi persiapan sertifikasi guru.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bertujuan untuk memperbaiki pendidikan nasional, baik secara kualitas maupun kuantitas. Undang-undang ini menetapkan kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sebagai suatu kesatuan upaya pemberdayaan guru. Sesuai dengan amanat undang-undang tersebut, Sertifikasi Guru memang harus dilakukan sebagai proses pemberian bukti formal yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Ketika seorang guru sudah mendapat sertifikat pendidik ini maka ada jaminan untuk mendapatkan imbalan yang layak, sehingga pekerjaan guru dapat dianggap sebagai pekerjaan yang profesional, menarik, dan kompetitif.

Sertifikasi Guru adalah sebuah program yang cukup menggemparkan dunia pendidikan. Berbagai kalangan menaruh harapan besar akan adanya perubahan kualitas pendidikan nasional namun tidak sedikit yang merasakan kegelisahan, terutama mengenai teknis pelaksanaan yang memungkinlah celah kecurangan sehingga tidak mewadahi tujuan yang sebenarnya.

Pada kenyataannya, proses sertifikasi guru dipandang berbeda oleh kalangan guru sendiri. Pernyataan yang sering didengungkan dalam obrolan sehari-hari, bahkan juga diskusi, seminar, workshop guru menunjukkan sudut pandang yang terlalu sederhana. Berikut ini gambaran pendapat yang sering beredar : “Dalam sertifikasi, guru-guru diminta mengajukan sebuah portofolio. Kemudian, portofolio yang berisi berbagai macam dokumentasi kerja seorang guru itu akan dinilai oleh Tim Assesor yang ditunjuk, kalau poin yang didapat dalam portofolio tersebut mencapai batas minimal, maka akan dinyatakan lulus dan mendapat sertifikat guru. Jika tidak, kabarnya akan diberikan pelatihan dan boleh mengajukan sertifikasi pada periode berikutnya. Sertifikat guru yang telah dipegang dapat digunakan untuk mendapatkan imbalan kesejahteraan berupa 1 kali gaji. Harapannya dengan dukungan material atau finansial ini, guru-guru dapat bekerja lebih baik”.

Penulis sempat tercenung beberapa saat ketika kali pertama mendengar kalimat semacam itu dalam sebuah seminar guru. Terdapat sebuah keresahan dan kekhawatiran akan timbulnya hal yang tidak tepat dalam perjalanan sertifikasi guru. Penulis memandang ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dari gambaran proses sertifikasi tersebut.

Pertama, proses sertifikasi belum menjadi jaminan peningkatan kualitas guru karena pada hakikatnya sertifikasi hanyalah alat untuk memetakan guru. Proses sertifikasi menghasilkan dua kategori yaitu guru yang lulus sertifikasi dan tidak lulus. Guru yang lulus sertifikasi dinilai memiliki kualifikasi sebagai pendidik, layak mendapat sertifikat, dan dianggap bisa menjalankan pekerjaan guru secara profesional. Guru yang tidak lulus dinilai belum memiliki kualifikasi sebagai pendidik, belum bisa mendapatkan sertifikat, dan dianggap belum bisa menjalankan pekerjaannya secara profesional sehingga perlu pembinaan lebih lanjut dalam bentuk pendidikan dan pelatihan. Dengan asumsi bahwa penilaian yang dilakukan para assesor dengan menggunakan metode portofolio adalah sebuah proses yang terpercaya dan akurat maka masih tersisa satu masalah lain. Kegiatan tindak lanjut berupa pendidikan dan pelatihan menjadi peluang untuk membantu peningkatan kualitas kompetensi pendidik, bahkan proses inilah yang perlu dikawal. Maka, apakah desain pendidikan dan pelatihan ini sudah disiapkan dengan baik?

Kedua, metode yang dipilih untuk meningkatkan kualitas guru melalui Sertifikasi Guru adalah memberikan jaminan kesejahteraan berupa imbalan 1 kali gaji. Pilihan ini didasari harapan bahwa dengan dukungan material atau finansial, maka guru-guru dapat bekerja lebih baik dan pekerjaan guru dapat dianggap sebagai pekerjaan yang profesional, menarik, dan kompetitif. Dalam kajian motivasi, cara ini adalah sebuah pilihan untuk meningkatkan motivasi sumber sumber daya manusia dari sisi ekstrinsik. Pemberian reward dari pihak luar diri memang dapat memunculkan motivasi dan menggerakkan seseorang untuk meraihnya, tetapi motivasi ekstrinsik sulit untuk bertahan dalam jangka waktu lama. Adakah jaminan setelah penambahan penghasilan akan serta merta membuat guru merasa puas sehingga lebih fokus dalam meningkatkan kualitas diri?

Berikut ini pertanyaan dan pernyataan menggelitik dari kalangan guru sendiri terkait dengan sertifikasi guru. ”Ayo ikut seminar, nanti dapat sertifikat lho!”, begitulah kira-kira komentar sekelompok guru yang sedang mempersiapkan diri untuk proses sertifikasi. ”Saya mau membuat penelitian, kan poinnya besar dalam penilaian sertifikasi” kata guru lainnya. ”Bolehkah minta surat keterangan untuk kegiatan-kegiatan mendampingi siswa karena itu juga ada poinnya lho” sahut yang lain.

Sejak ada proses sertifikasi guru, kegiatan seminar yang paling membosankan pun diikuti oleh banyak orang jika ada sertifikatnya. Guru-guru berburu sertifkat dengan mengikuti berbagai kegiatan baik yang bernama seminar, pelatihan, workshop, dan lain-lain. Bahkan banyak juga yang rela membayar mahal untuk kegiatan-kegiatan itu. “Saya bayar saja ya, tapi tidak bisa datang, nanti sertifikatnya dikirim saja ke sekolah”. Sikap-sikap ini sangat memalukan nama baik profesi guru karena hanya demi mendapatkan poin yang cukup dalam sertifikasi mereka menempuh cara-cara yang tidak etis. Di sisi lain, betapa banyak energi yang dikeluarkan untuk mengejar persiapan sertifikasi sehingga bisa saja kegiatan utama di sekolah terbengkalai dan kemudian kegiatan mengajar menjadi sebuah proses untuk menggugurkan kewajiban saja tanpa pemaknaan yang berarti.

Ketiga, seperti tampak dari cerita di atas, proses sertifikasi guru yang menggiurkan karena tawaran berupa tambahan 1 kali gaji itu membuat para guru bersemangat beraktivitas namun bisa juga mengurangi keikhlasan dalam bekerja. Sikap seperti inikah yang akan diteladani oleh siswa kita? Bukankah para guru tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan kepada siswa tapi juga berkewajiban memberikan penanaman nilai dan pendidikan karakter kepada siswa. Perilaku-perilaku guru yang kurang beretika dalam mengejar sertifikasi bukanlah sebuah contoh yang mendidik bagi anak-anak kita. Maka selanjutnya, fenomena sertifikasi guru hanya akan menambah daftar kesempatan merosotnya kualitas pendidik kita.


Life is always like two sides of coin. Dalam kehidupan ini selalu ada dua sisi antara kebaikan dan kebalikannya. Program peningkatan kualitas pendidikan dengan penetapan kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sebagai suatu kesatuan upaya pemberdayaan guru ternyata juga bisa melahirkan efek samping masalah-masalah yang mungkin menimbulkan kemorosotan kualitas pendidikan kita. Ketika kita memiliki kesadaran akan masalah ini, kita masih bisa melakukan antisipasi. Kita sebagai insan dalam dunia pendidikan memegang amanah untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Marilah kita menata diri, meluruskan niat, dan membangun keikhlasan hati dalam mengikuti sertikasi guru. Semoga segala usaha untuk persiapan sertifikasi guru lebih karena motivasi untuk memberdayakan diri dapat mendatangkan manfaat untuk bangsa ini.


(ditulis sewaktu masih menjadi guru, sekarang aku bukan guru tetapi tetap seorang pendidik)

Anak Saya Tidak Normal?

"Apakah itu berarti anak saya tidak normal?", begitu kalimat tanya lengkap yang diajukan seorang ibu padaku. Sesaat aku terdiam, seluruh komponen pikiran dan perasaanku bekerja untuk mencari kalimat yang tepat dalam menjelaskan hal ini.
"Ibu, setiap anak, sebagaimana juga semua manusia dilahirkan berbeda, masing-masing punya kelebihan dan kelemahan. Apabila ternyata anak ibu memiliki sesuatu yang berbeda dari anak-anak seusianya, maka apakah kita layak menyebutnya anak tidak normal? Anak adalah ciptaan Allah. Apakah kemudian kita bisa mengatakan juga ciptaan Allah itu tidak normal? Allah menciptakan setiap makhluknya dengan sempurna. Jika kemudian dalam sudut pandang manusia, ada yang kurang, itulah manusia. Memang, dalam kacamata ilmu psikologi, anak ibu memiliki hambatan dalam berperilaku. Mungkin itulah sisi kelemahan dia sebagai manusia. Lalu kelebihannya? Mari kita cari sama-sama, agar dia tetap dapat membantu dia menjadi manusia bermanfaat di kemudian hari" begitulah akhirnya jawaban yang kucoba sampaikan dengan bahasa yang selembut mungkin, sambil terus aku pegang dan elus-elus tangan si ibu.
Aku melihat, sepanjang aku berbicara tadi, sang ibu mendengar penuh seksama, sambil berurai air mata, sekali lagi, air mata tanpa sesenggukan, tanda kesedihan hati yang terdalam.
"Apakah anak saya masih bisa sekolah di sekolah umum?" tanya sang ibu akhirnya

"Bisa ya, bisa tidak" kali ini aku bisa menjawab dengan spontan dan tegas.
"Ada banyak serangkaian pemeriksaan yang perlu kita lakukan. Observasi sesaat yang sudah dilakukan, memang menunjukkan adanya hambatan perilaku. Tetapi untuk memberikan rekomendasi jenis sekolah, saya sarankan pemeriksaan lanjutan. Baik itu secara psikologi dan juga medis" aku menambahkan penjelasan berikutnya.
Akhirnya sang ibu mulai tenang, dan melanjutkan diskusi tentang langkah-langkah selanjutnya.
Inilah sebuah catatan peristiwa dahsyat yang kudapat sepekan lalu. Sebuah peristiwa yang mengajarkan aku banyak hal. Sebagai hamba Allah, aku diingatkan untuk menerima ketetapan Allah, betapa pun itu pahit, dan senantiasa bersabar serta bersyukur, serta meyakini bahwa Allah memberikan yang terbaik. Sebagai konselor, aku belajar untuk semakin berempati, sekaligus tetap profesional dalm menyampaikan rekomendasi. Sebagai seorang istri dan calon ibu (hehe, mudah-mudah Allah memberi kemudahan), aku belajar bahwa memang menjadi orangtua adalah sebuah persoalan yang tidak sederhana, namun di sinilah manusia dididik untuk menjadi arif dan bijaksana. Fuihh, aku tidak akan bisa menuliskan ini jika Allah tidak mempertemukan aku dengan anak-anak dengan berbagai macam kasus yang aku tangani. Ya Allah, jagalah diriku untuk melakukan yang terbaik...

Selasa, 02 Juni 2009

Jauhi Prasangka

Sudah menjadi bagian dari Kode Etik Psikologi untuk tidak melabeli orang. Namun, konselor juga manusia, terjadi juga...
Beberapa hari yang lalu, seorang ibu telepon aku, minta waktu untuk konsultasi dan memeriksakan anaknya yang masih berusia "22 bulan". Pikiranku pertama adalah "Wah, ibu ini paranoid banget. Masak ya..anak masih kecil pengen tahu psikologinya segala. Mentang-mentang orang kaya punya uang". Dan ini menjadi sebuah kesalahan diriku. Dosa ya? Berprasangka pada orang lain. Alhamdulillah masih menjadi kesalahan berharga karena menyadarku untuk menghindarinya di lain waktu...
Cerita berlanjut, setelah mendapat kesepakatan waktu akhirnya aku berhasil mempertemukan ibu ini dengan terapis yang cocok. Setelah observasi, khususnya perkembangan fisik, motorik, dll. Kesimpulan akhirnya : ANAK INI NORMAL, perkembangan masih sesuai dengan anak-anak seusianya. "Nah, betul kan..ibu ini paranoid. Lha wong anaknya gak apa-apa kok" begitu aku masih menggerutu dalam hati.
Gerutuan dalam hatiku terhenti ketika melihat mimik wajah ibu itu berubah. "Saya boleh cerita, Bu?" tanya dia.
"Ya, silakan. Apa yang bisa saya bantu lagi?" jawabku. Kemudian mengalirkan sebuah cerita drama sendu dari si ibu ini. Suaminya yang menggunakan narkoba menjadi biang semua persoalan. Si Ibu merasa, kondisi suami yang tidak stabil karena dalam proses rehabilitasi, membuatnya belum mampu menjadi sosok suami dan ayah diharapkan. Sehingga si ibu membawa anaknya untuk diperiksa itu demi meyakinkan dirinya bahwa anaknya masih baik-baik saja, takut anknya mendapt dampak dari ayahnya yang konsumsi narkoba. Cerita sedih ini keluar begitu saja dari bibir ibu disertai untaian air mata mengalir tanpa isak tangis (Tahu nggak tipe tangisan ini? Orang yang airmatanya menetes begitu saja, nggak pake sesenggukan. Satu bentuk menangis yang mencerminkan kesedihan terdalam).
Seusai sesi konsultasi itu, aku termenung...Sungguh aku telah salah ketika berprasangka. Andaikan aku berada pada posisi ibu itu, tentunya aku khawatir pada perkembangan anakku. Dan ini sama sekali bukan bentuk kekhawatiran yang berlebihan. Bukan paranoid! Maka memang aku harus lebih berhati-hati. Dan sungguh, jauhilah prasangka!
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
(Q.S. Al Hujurat : 12)

Rabu, 20 Mei 2009

Syair untuk Istri

Untuk Istri
Pernikahan ataupun perkawinan,
Membuka tabir rahasia,

Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad,
Tidaklah setakwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Ayub,
Atau pun segagah Musa,
Apalagi setampan Yusuf

Justeru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita,
Membangun keturunan yang soleh ...

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,

Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,

Suami bagaikan balita yang nakal, Kamu adalah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamu lah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya ...

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,
Untuk belajar meniti sabar dan redha,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justeru Kamu akan tersentak dari alpa,

Kamu bukanlah Khadijah,
yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar,
yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman,
Yang berusaha menjadi solehah...

Amin.